Posted by: nanik on: Juli 10, 2009
Lega. Itulah perasaan saya saat ini. Setelah melewati masa sulit sejak bulan Januari (sulit menurut saya lho …), sekarang saya menjadi lebih rileks. Bulan Januari, saat pertama kali saya merasakan kehamilan anak ketiga saya, setelah sebelumnya, pada bulan Desember, saya mendapat pemberitahuan bahwa paper saya ditolak, adalah awal dari masa sulit itu. Dalam kondisi tidak stabil, baik fisik maupun mental, yang selalu saya alami pada saat hamil muda, berbagai pertanyaan dan kebimbangan, memperparah kondisi saya.
Bagaimana saya menjelaskan kehamilan saya ke Profesor? Apakah Profesor akan mau mengerti, mengingat kejadian ini bukanlah yang pertama? Tahun 2003 saya pernah di-black-list Monbukagakusho karena hamil pada saat akan berangkat studi. Alhamdulillah, tahun 2006, setelah Roy berumur 3,5 tahun, bisa berangkat dengan beasiswa Hitachi. Dan sekarang, sebelum lulus, ehhh … kok hamil lagi. Apakah Profesor mau memahami?
Kebimbangan berikutnya, apakah saya akan bisa menyelesaikan studi saya? Apalagi waktu itu, baru tahu bahwa paper saya ditolak. PD rasanya sudah terbang entah kemana. Belum lagi rasa mual yang menyerang hampir sepanjang hari. Bisakah saya belajar dalam kondisi seperti ini?
Saya tidak mau menyerah. Tidak mau kalah. Saya tidak mau mengecewakan suami (yang rela cuti diluar tanggungan negara untuk menemani saya belajar di di sini), anak2, orang tua, Profesor, Jurusan, Hitachi, pokoknya semua pihak yang berkepentingan dengan studi saya. Akhirnya, bulan Januari, Pebruari, Maret, April, menjadi bulan perjuangan (ceileee, seperti perang saja …), yang lucu untuk dikenang. Pagi-pagi berangkat ke lab dengan membawa berbagai macam amunisi pereda mual (cemilan2 beli di seven eleven). Begitu sampai di lab, duduk, nyalain komputer, nggak sampai setengah jam, sudah nggak betah, dan boyongan pindah ke perpustakaan. Sampai di perpustakaan, karena kecapekan jalan, biasanya jadi ngantuk, liyer-liyer atau duduk bengong. Tapi kalau pas nggak terlalu capek, alhamdulillah, sedikit-sedikit bisa nyicil nulis program. Kalau pas programnya error, rasa mual terasa semakin menjadi-jadi, dan seharian tidak bergairah untuk mengerjakan apapun juga. Bener-bener masa sulit. Sampai saya bisa ngerasain yang namanya “hidup segan mati tak mau” (hehehe, segitu parahnya …).
Akhir April, program yang saya tulis sedikit demi sedikit, mulai menampakkan bentuknya. Pas seminar, saat saya mempresentasikan hasil riset saya, Profesor terlihat senang. Setelah seminar, beliau meminta untuk menuliskan hasil riset tersebut dalam sebuah paper. Dua minggu kemudian, jadilah paper saya. Berbekal paper tersebut, dengan perasaan dag dig dug, saya memberitahu Profesor tentang kehamilan saya. Wes, apapun konsekuensinya, saya harus cerita. Alhamdulillah, ternyata Profesor memahami. Beliau malah menanyakan tanggal persalinan, supaya bisa menyiapkan istrinya untuk membantu (nggak tahu, bantu apa ya?) pada tanggal tersebut. Beliau juga memberitahu kapan saya harus men-submit disertasi, kapan ujian, dan juga menyarankan untuk men-split paper yang sudah saya tulis menjadi dua, dan men-submit ke 2 jurnal yang berbeda. Setelah itu, saya menjadi semakin bersemangat. Apalagi, rasa mual sudah mulai hilang, digantikan dengan rasa berat, karena perut yang mulai membesar (hehehe …). Dan kini, meski belum benar-benar dalam posisi “aman”, saya lebih lega, karena sudah punya 2 paper konferensi dan 1 paper jurnal, dan sedang menunggu pengumuman dari beberapa paper jurnal yang sudah saya submit, yang Insya Allah bisa memenuhi syarat lulus di lab saya. Dan yang juga penting, kalau sedang berjalan di sepanjang lorong lab sambil membawa genderang
, saya sudah nggak rikuh. Genderangnya ini sudah diketahui sama Prof lho ….
Nanik, apapun yang terjadi, tetaplah berdoa dan berusaha.
Mudah2an sharing pengalaman ini bermanfaat ….
Waahhh pantesan sekarang selalu rajin ke Pi Saijo ^_^. Alhamdulillah, ikut senang dan mendoakan semoga semuanya lancar ya Bu…
Bu Nanik sughoi euy….meski ngakunya `hidup segan mati tak mau` tp saya lihatnya setiap pagi wkt antar roi sekolah, bu Nanik tenang2 aja…^_^.
jadi kangen masa2 ngantar anak2 sekolah TK…pulangnya ngerumpi bentar..he..he..
Alhamdulillah—-Insya Allah segera paper journal ke 2 nya bisa barengan dgn bayinya—-jadi segera cicil aja buku disertasinya— syukurlah, jadi kangen nunggu in SMS an mBak Nanik—sekedar nanya2: “apa masih stress yaa”
Salam yaa buat mas Ludi—kapan yaa bisa nantangin main badminton lagi-
mbak nanik senang baca postingan ini, secara lagi mencari semangat sendiri
mbak, ngurus cuti di luar tanggungan negara itu susah gak yah? boleh share, mbak?
Juli 14, 2009 pada 3:37 am
Alhamdulillah.. dah lega ya mbak… Mudah2an lancar double PhD-nya ^-^ di posting ke pi-saijo jg mbak, untuk memotivasi ibu2 yang kebetulan juga dalam posisi yang sama dengan mbak Nanik… double PhD ^-^
Juli 14, 2009 pada 5:15 am
Alhamdulillah mbak Piti …. Meski belum benar2 lulus dari double PhD, sekarang sudah lebih lega, lebih semangat
Eh, password-nya apa yach? Gomen, lupa …. Maklum, sudah tua ….
IA akan sy posting ke pi saijo. Mudah2an bisa memotivasi ibu2 yang bernasib sama spt sy