Posted by: nanik on: Februari 1, 2009
Pagi ini, aku teringat dengan bubur sapar ala kampungku, yang sangat melimpah saat bulan Sapar tiba. Setting ingatanku terjadi saat aku dan keluargaku tinggal serumah bersama orangtuaku, pada saat Roy masih berumur 2 tahun dan Hani berumur 5 tahun. Sebelumnya, setelah aku menikah dan sebelum Roy lahir, aku tinggal di rumahku sendiri, kurang lebih 50 meter dari rumah orangtuaku. Setelah Roy lahir, orang tua memintaku untuk tinggal bersama mereka. Mungkin ibuku khawatir cucu-cucunya jadi kurang perhatian, mengingat kesibukanku dan suamiku bekerja. Aku sih sangat senang bisa tinggal bersama ibu, karena bisa lepas dari dua tugas sulit yang sering membuatku stress, yaitu manajemen masak dan manajemen beres-beres rumah.
Kami menyebut rumah orang tuaku dengan “rumah besar”, karena rumahnya memang rumah ala kampung yang besar. Rumahnya berdiri di tengah kebun yang cukup luas, yang ditanami pohon rambutan, pohon pisang, pohon mangga, pohon nangka, jagung, pohon pepaya, pohon durian, ketela pohon, bayam, cabe, kacang panjang, kunci, jahe dll. Pokoknya, untuk keperluan sayur mayur dan bumbu sehari-hari, kami tidak perlu beli di pasar. Bahkan tetangga kiri kanan seringkali ikut serta menikmati hasil kebun kami.
Saking besarnya ”rumah besar” (menurutku lho), kami kewalahan untuk membersihkannya. Ada ruang tamu yang luas; dua kamar besar, satu ditempati bapak ibu dan satu lagi kutempati bersama suami, Hani dan Roy; 4 kamar berukuran sedang, satu ditempati mbah Yut (buleknya ibu), satu lagi ditempati Sus (keponakan bapak), satu lagi ditempati Khol (pengasuh Hani dan Roy), dan satu lagi kosong; dapur dan ruang makan yang luas; mushola kecil (cukup untuk dua orang, tempat sholat favorit bapak dan ibu); mushola besar (cukup untuk 15 orang, digunakan sebagai tempat ngaji setiap Senin malam); 3 kamar mandi; gudang; garasi; ruang keluarga (tempat bapak biasanya ditonton oleh televisi, bukan bapak menonton televisi); teras super besar (yang setiap hari Senin digunakan sebagai tempat rapat anggota koperasi yang diketuai ibuku, bisa menampung sd 100 orang lebih); pelataran depan rumah yang berukuran sama dengan lapangan badminton. Beberapa hari sekali, ibu meminta tolong yu Pasi dan mbak Narti untuk bersih-bersih rumah total, mulai dari menyapu dan mengepel lantai, melap kaca, mencuci korden, menjemur kasur dan bantal, membersihkan peralatan dapur, dll, dan meminta tolong pak Yan untuk membersihkan kebun.
Waaah, kok jadi kepanjangan ya cerita tentang rumah besar (maaf, mungkin karena aku sangat sangat sangat rindu dengan suasana rumah besar jaman dulu). Kembali ke bubur sapar yaaa …. Bubur sapar itu terbuat dari tepung (entah tepung beras atau tepung ketan ya? Maaf, lupa), yang dibentuk bulat-bulat (sedikit lebih besar dari kelereng), terus dimasukkan ke dalam rebusan air gula merah. Setelah matang, akan berbentuk bubur berwarna coklat tua yang manis dengan bulatan-bulatan kenyal berwarna coklat muda yang gurih. Disajikan dengan santan kental. Slurrrp …, enak tenan.
Nah, di bulan Sapar, hampir setiap hari kami mendapat hantaran bubur sapar secara bergiliran, dari saudara dan tetangga satu kampung. Dari sekian banyak hantaran, tidak ada bubur sapar yang rasanya persis sama, pasti ada beda-beda tipis di rasa kenyal, gurih dan manisnya. Seisi rumah menyukai (ada yang agak suka, suka aja, suka banget) bubur sapar. Bapak dan aku termasuk yang “suka banget”. Kami biasanya menyabet duluan bubur sapar yang baru dihantar, karena masih fresh dan hangat.
Pada suatu hari Minggu, kami berencana membuat bubur Sapar, untuk hantaran dan untuk konsumsi sendiri. Jadi membuatnya dalam jumlah buuuanyak. Ibu, sebagai manager rumah, mempercayakan pembuatan bubur Sapar kepada mbah Yut, sebagai ketua, dan yu Pasi sebagai wakil ketua. Yang lainnya, sebagai pelaksana, dan bapak sebagai pemerhati. Ibu sendiri, sejak pagi sudah berangkat ngantor (hehehe … jualan di pasar), pokoknya tahu beres sepulang dari pasar. Beres berarti semua saudara dan tetangga yang ada dalam list sudah menerima hantaran bubur Sapar dan pas Ibu pulang, Ibu bisa menikmati bubur Sapar yang lezat.
Sejak pagi, mbah Yut yang terkenal super ceriwis, berulang kali meneriakkan instruksi, ”Siiii … (memanggil nama yu Pasi), nek mari kuwi ndang diselepno berase (setelah menyelesaikan itu, segeralah pergi menyelep/menumbuk beras), mengko nganggo panci sing gedhe iki ae (nanti pakai panci besar ini saja), tampahe nggawe telu (pakai tiga tampah), Sus karo Khol sing ngeterke (Sus dan Khol yang menghantarkan), Sholeh ndang dikandhani, kongkon ngeterke Sus karo Khol nang sing adhoh-adhoh (cepat beritahu Sholeh untuk mengantar Sus dan Khol menghantar ke tempat-tempat yang jauh), dll ….”
Yu Pasi yang saat itu sedang sibuk mengerjakan sesuatu dan berada didekatku, berbisik,” Wis ero … (sudah tahu).” Aku menyahut,” Aku yo wis ero (aku juga sudah tahu).” Dan kami berdua cekikikan.
Karena tidak mendengar respon dari yu Pasi, mbah Yut kembali berteriak,” Siiii …, kowe ki krungu po ora tho (Pasi, kamu ini dengar atau tidak?).”
“Enggeh mbah … krungu (iya mbah … dengar),” Yu Pasi cepat-cepat lari ke mbah Yut, mengambil bungkusan beras yang sudah disiapkan mbah Yut dan berangkat ke tempat selepan (tempat menumbuk beras).
Sepulang dari tempat selepan, yu Pasi membuat adonan tepung, plus air, air kapur, garam. Saat adonan tepung siap untuk dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil, pasukan pelaksana segera menyerbu. Aku, Sus, Khol, Hani, Roy plus teman-teman Hani dan Roy (Tita, Deni, Saiful) yang hampir tiap hari bermain di rumah, ditambah dengan gerombolan adikku Nur dan dua anaknya (Nisa dan Ina) yang tiap Minggu selalu stand-by di rumah besar. Mbah Yut seperti biasa mengeluarkan titah ini, itu, memarahi si A, si B,” Tit … lek ngunder-ngunder ojo gedhe-gedhe tho (Tita, bulatannya jangan besar-besar), Deni karo Saiful ki wes ngrusuhi ae (Deni dan Saiful mengganggu saja), dll.” Anak-anak benar-benar having fun dengan kegiatan “ngunder-ngunder” ini. Sementara bapak, sang pemerhati, hanya senyum-senyum sambil sesekali garuk-garuk kepala.
Walhasil, jadilah bubur Sapar “kocak”, karena bulatannya yang benar-benar tidak seragam. Variance-nya sangat besar. Mulai dari yang kecil mungil buatan Ina, sampai dengan yang segedhe bola bekel buatan Hani. Begitu bubur masak, semua pasukan pelaksana kecil makan bersama di teras besar. “Uuuenak …,” kata mereka. Bener lho, rasanya sangat enak. Tapi mbah Yut sangat tidak puas dengan hasil ini. Sampai sore beliau terus menggerutu gara-gara bubur Sapar yang tidak seragam.
Inilah sepenggal kerinduanku tentang bubur Sapar, tentang kebersamaan di rumah besar. Kalau aku kembali pulang, tak kan mungkin lagi kurasakan kebersamaan seperti waktu itu. Karena sekarang, mbah Yut sudah meninggal, Sus sudah menikah dan tinggal bersama suaminya, Khol sudah pulang ke rumahnya (mungkin akan segera menikah). Sama halnya dengan tak mungkin lagi kurasakan nikmatnya nyemil paket Cheeseburger dari pintu tol Mayjen Sungkono sd pintu tol Gempol, karena sekarang ruas tol Porong – Gempol sudah ditutup, tertutup lumpur Lapindo. Semuanya, sekarang hanya begitu indah dalam bayangan ….
ihiks….ihiks…sedih bacanya. saya kok ngebayangin mba nanik lagi duduk diteras besar sambil baca koran ditemani segelas kopi sm bubur sapar…halah ga nyambung. kopi kok lawannya bubur ….nikmati yg sekarang, pasti suatu saat kalo kita semua balik ke negri tercintah pasti kangen dan rindu sm saijo….
bagi doong buburnya….
by the way, bubur sapar itu kayak apa sih rupa dan rasanya?
perasaan baru denger aku..
kalo di jakarta itu namanya bubur candil kali ya mbak nanik…
jadi pengen…. *hallah ini dr tadi kok ikut2an aja.. ktularan lho* hehehe ^-^ kapan2 kita bikin bareng2 yuk… bulet2in bareng2.. no problem bulatannya gak seragam.. yang penting rame2nya itu ^-^ kali aja bisa ngobatin kangennya mbak nanik ama rame2 versi rumah besar ^-^
Februari 2, 2009 pada 6:40 pm
waaaaaah indahnya ya suasana kampung… masa lalu memang terasa indah dikenang…tapi jangan kuatir bu, kita masih bisa mengukir masa depan dengan lebih indah loh…meski tentu tdk akan pernah sama settingnya dg masa lalu….. ^_^. Gambarimasyoo…
Februari 3, 2009 pada 12:58 am
Betul bu …. Suatu saat nanti, apa yang kita lakukan di Saijo sekarang pasti akan menjadi indah dalam kenangan