Posted by: nanik on: Januari 31, 2009
Akhir-akhir ini, mungkin karena perubahan hormon dalam tubuhku, aku jadi sering membayangkan dan merindukan kebiasaan-kebiasaan masa lalu, terutama yang berhubungan dengan makanan. Aku sangat rindu makanan McD ala Indonesia, rujak Taqwa, urap-urap, rawon, pangsit mie ayam, bakso, tahu campur, dll. Aku rindu makan bakso pak Kumis bersama anak-anak dan keponakan di emperan ruko BNI, rindu sapaan Yu Pasi yang menawarkan kopi. Yu Pasi itu tetangga depan rumah yang setiap hari lebih dari dua kali melakukan inspeksi ke rumah. Selalu mencari tahu apakah ada sesuatu yang perlu dibereskan. Begitu nongol Yu Pasi sering menawarkan,”Kopi?” Biasanya sih aku selalu menjawab,”Ya …ya. Segelas aja. Nanti paruhan ya?” Meskipun akhirnya, kopi enak buatan Yu Pasi kuhabiskan sendiri.
Banyak yang kurindukan. Banyak pula yang ingin kutuliskan. Kali ini, aku tulis kerinduanku akan McD ala Indonesia, dan cara menyantapnya ala aku. Begini ceritanya ….
Saat menyusuri jalan Mayjen Sungkono, jam tanganku menunjuk ke pukul 5 sore. Perutku berbunyi,” Kukuruyuk … kukuruyuk …”, seperti suara ayam betina yang berkokok malu-malu. Baru inget, tadi siang belum makan. Lapar …. Pengen makan sesuatu aaah. Tapi yang nggak pakai menghentikan mobil, supaya waktu perjalanan nggak terpotong hanya untuk makan. Artinya, aku akan menjalankan plan McD, salah satu plan favorit saat nyetir mobil.
Menjelang pintu masuk tol Mayjen Sungkono, kubelokkan mobil ke Mc Donald. Buat aku, lokasi Mc Donald cabang Mayjen Sungkono yang berada tepat sebelum pintu masuk tol, benar-benar strategis, karena sangat memudahkanku saat kelaparan sepulang kerja. Kubeli paket Cheeseburger melalui drivethrough. Aku nggak perlu turun dari mobil. Cukup melewatkan mobil ke lintasan drivethrough, memesan makanan di loket pertama, terus mengambil makanan dan membayar di loket kedua. Praktis …. Waktu itu, paket Cheeseburger terdiri dari setangkup roti burger dengan isi daging, keju, selada, tomat, timun kecut dan mayonese; sekotak kentang goreng; segelas kertas coca-cola (yang bisa dituker sprite, lemon tea atau yang lain); lengkap dengan sedotan, saus tomat sachet, sambal tomat sachet dan tissue. Harganya kurang lebih 20 ribu rupiah. Itu sekitar 3 tahun lalu. Mungkin sekarang sudah beda.
Sebelum keluar dari wilayah McD, aku berhenti sejenak untuk menata paket Cheeseburger di kursi kosong sebelahku, supaya aku bisa menikmatinya sambil nyetir tanpa kesulitan. Pertama, kusruput minuman. Segarrr …! Surabaya meski sudah sesore ini tapi masih tetep aja panas. Terus, kuletakkan gelas kertas dengan posisi yang aman supaya tidak tumpah, kubuka bungkus burger dan kuletakkan berjajar dengan kentang goreng dan tissue. Semua makanan kuletakkan dalam jangkauan tanganku. Aku tak menyentuh saus dalam sachet, karena aku lebih menyukai rasa cheese burger yang original tanpa saus-sausan. Untuk kentang goreng, sebenarnya lebih enak kalau makannya di-cocol dulu dengan sambel tomat. Tapi karena “mencocol “ susah dilakukan sambil nyetir, jadi kentang goreng pun dimakan polosan. Setelah semua tertata, yooosh …, aku siap melanjutkan perjalanan pulang ke rumah yang masih butuh waktu minimal sejam lagi.
Setelah melewati pintu masuk tol Mayjen Sungkono, dimulailah prosesi makan sambil nyetir, yang waktu itu sepertinya biasa-biasa saja, tapi sekarang menjadi sesuatu yang nikmat sekali dalam bayangan. Sambil mendengarkan radio Suara Surabaya, megang setir dengan tangan kanan, kadang-kadang ngopling dengan tangan kiri, satu-satu kentang goreng masuk ke mulutku, diselingi dengan seteguk dua teguk lemon tea dan segigit dua gigit burger. Gurih …. Segar …. Enak …. Asyik …. Menjelang pintu keluar tol Gempol, paket Cheeseburger-ku sudah ludes. Kenyang dan siap untuk menempuh rute Gempol – Pandaan – rumah. Inilah kenangan nyemilku antara pintul tol Mayjen Sungkono sd pintu tol Gempol. (Btw, kok nggak ada yang bikin lagu kenangan nyemil di antara dua kota yach, nyaingin lagu kenangan cinta antara Anyer dan Jakarta ….)
tuuuuuuuuuhkan…..pasti lagi mun mun ya….ikan asin mah kayanya ga mau ya??? ayo pak ludi masak yang uenak….terus kirim ke rumah saya…hehehe kebolak balik. selamat ya mba.
waah mbak nanik… saya baca tulisannya jadi ikut ngidam mcD ![]()
Sing sabar ya mbak.. ntar deh mbak nisful bikin prototipe warung seperti yg dibayangin mbak nanik hihihi… saya rekomendasiin wedang ronde-nya… uenak tenan!! ^-^
Februari 2, 2009 pada 6:21 pm
waaaaduuuhhh bumil…udah mulai ya ritual nya…ha..ha… dinikmati aja ya bu imajinasinya….. ^_^.
biar tdk hanya jd imajinasi, sering2 datang ke pi saijo bu…kan kadang ada tuh mie ayam, bakso, urap2…tp sayang Mc D nya gak pernah ada…..he..he.. gambatte ne…^_^.
Februari 3, 2009 pada 12:53 am
Iya nih bu Iyan. Jadi ingat makanan terus. Susahnya, bukan sushi atau udon yang diingat. Tapi makanan Indonesia plus setting ala Indonesia. Misalnya, tidak sekedar urap2, tapi urap2 yang belinya di warung di pasar Tretes, yang disajikan dengan nasi mengepul, plus lauk yang bisa dipilih sesukanya, ayam goreng atau empal atau ikan asin atau ikan pepes, plus sambal terasi yang melimpah yang diletakkan di atas cobek besar, sehingga pembeli bisa ambil sendiri sesukanya. Pengeeeen banget. Padahal urap2 dg model seperti itu, meskipun sy pulang ke Indonesia pun, sudah tidak akan saya temukan lagi di pasar Tretes. Sebab, warungnya sudah tutup sejak beberapa tahun lalu.
Btw, terima kasih parutan kelapanya yaaach. Lumayan …, bisa mengobati rasa kangen pada urap2. Meski urap2 yang dibuatkan pak Koki bedaaaaa dengan yang ada di imajinasi