Posted by: nanik on: September 30, 2008
Jam 3:30 sore.
“Pingpong ….”
Saya terhenyak, menghentikan ketikan. Belum sempat berpikir lebih jauh, terdengar lagi suara bel dipencet tiga kali dengan tergesa-gesa. ”Pingpong …, pingpong …, pingpong ….”
Hani! Pikiran saya reflek mengarah ke anak perempuan saya. Jam segini adalah jam kepulangan Hani dari sekolah. “Roy! Mbak Hani datang. Tolong pintunya dibuka …,” saya berteriak ke Roy, yang posisi bermainnya lebih dekat dengan pintu depan dibandingkan sy yang sedang mojok di sudut kamar.
Roy tidak bergerak.
”Pingpong …, pingpong …, pingpong …,” suara bel berdering lagi.
Sepertinya sia-sia mengharap pertolongan Roy. Saya mulai beranjak dari depan komputer. Belum sampai setengah perjalanan ke pintu depan, Roy sudah berlari mendahului. Ini anak …. Nolongnya selalu nanggung.
Pintu baru terbuka seperempat, ketika ”bruk … gedebruk … gedebruk”, Hani yang agak endhut menerobos masuk, melepas sepatu, meletakkan randoseru (tas sekolah), teremos dan tas tempat lain2x (spt obento, suling, kaos dan celana olah raga), sambil menggerutu,” Osoi yo (lambat sekali sih buka pintunya)”. Hani bahkan tidak menghiraukan sambutan ”Okaerinasai” dari adiknya dan ”Wa’alaikumsalam” dari saya. Setelah aksi heboh gedebruk-gedebruk, Hani berteriak, ”Kebelet pipis!!!” sambil berlari ke kamar kecil.
Waduh …, belum berubah juga kebiasaan nih anak. ”Tadi, di sekolah nggak ke toire ya?” tanya sy penuh curiga.
Wajah Hani yang penuh kelegaan (seolah sudah melepaskan beban berat) menyembul dari pintu toire, ”Di sekolah tadi sudah ke toire. Tapi karena hari ini olah raga, minumnya banyak, jadi kebelet lagi …”
”Ibu, hari ini PR-nya buuuuanyak. Boleh ya ke rumah Shimada sampai jam setengah enam?” tanya Hani disela-sela kesibukannya ganti baju.
Hampir setiap hari, sepulang sekolah, Hani mengerjakan PR bersama Shimada, teman sekelas yang rumahnya berjarak sekitar 100 m dari rumah kami. Biasanya sih ijinnya cuma 1 jam, dari jam 4 sore sd jam 5, tapi seringkali molor sd jam 5 lewat seperempat atau bahkan lebih. Kalau ditegur pas pulang, jawaban Hani biasanya ”tadi nggak bawa jam, jadi nggak tahu jam berapa” atau ”tadi ngerjain sampai semua PR selesai” atau ”tadi Shimada nunjukin lagu baru”. Ah ya, Shimada san pintar main piano. Menurut cerita Hani, kalau pas boring ngerjain PR, Shimada suka nunjukin kemahirannya main piano. “Hebat lho bu! Main pianonya pakai 10 jari,” promosi Hani tentang Shimada.
”Sampai jam setengah 6 ya?” saya menimbang2x, memikirkan kemoloran yang mungkin terjadi. “Beneran jam setengah 6 …. Nggak pakai lebih.”
“Iya. Ini sudah bawa jam tangan, biar bisa lihat jam.”
“Yo wis. PR hari ini apa sih? Kanji dan sansu (aritmetika)?”
”Sansu nggak ada. Kanji ada, tapi sedikit. Yang buuuanyak, PR Syakai. Sama bu Guru disuruh nulis ”taisetsu na kotoba” yang ada di buku Syakai dari halaman 25 sd 28, terus dari halaman 42 sampai halaman 55.”
Taisetsu na kotoba? Ngerti nggak ya anak ini tentang apa yang harus dikerjakan di PR nya? Jadi penasaran. Nge-tes ah …. Saya buka2x buku Syakai Hani. Pas di halaman 25, saya tunjuk judulnya, “Ini kan yang ditulis? Ini kan taisetsu na kotoba?”
“Bukan,” kata Hani. “Taisetsu na kotoba itu tulisan yang penting2x.”
“Oooh. Jadi ditulis semua yaaa. Kan semuanya penting,” saya berpura2x o’on.
“Ya enggak. Yang ditulis tuh yang ini, terus ini, pokoknya yang penting2x saja,” Hani bersemangat menjelaskan.
Saya tarik napas lega. Berarti Hani tahu apa yang harus dikerjakan. Meski penting menurut Hani belum tentu penting menurut tuntutan pelajarannya, setidaknya kalau Hani tahu (menurut definisinya sendiri), dia akan enjoy menyelesaikan pekerjaannya. Terus terang, so far, saya tidak menuntut terlalu banyak dari Hani. Asalkan Hani enjoy, bisa menyelesaikan sendiri semua PRnya, it’s ok. Masalah hasil (kesempurnaan PR), belakangan ….
Ah, kembali ke Syakai. Kalau melihat di kamus, Syakai berarti masyarakat. Mungkin, Syakai adalah pelajaran tentang Kemasyarakatan. Isi dari buku paket Syakai adalah penjelasan tentang segala hal (spt jumlah penduduk, lokasi di peta, hasil bumi/laut) dari kecamatan2x yang ada di kabupaten Higashi Hiroshima, cerita tentang rumah sakit, supermaket, pabrik pembuatan minuman, dll. Pernah pada suatu hari Hani cerita tentang jalan2x ke supermaket Fresta beserta semua teman sekelasnya. Terus, PR hari itu adalah membuat koran yang berisi liputan, baik tulisan dan gambar, tentang kegiatan di supermarket. Kalau di Indonesia, pelajaran ini sama dengan apa ya?
Jam 4 sore.
Sambil membawa tas merah muda berisi buku2x PR, Hani pamitan,”Berangkat yaaa. Assalamu’alaikum. Itte kimasu ….”
”Wa’alaikumsalam. Itterassyai. Jam setengah 6 yaa … Nggak pakai lebih,” balas saya.
”Hai. Wakarimashita,” teriak Hani sambil berlari menuruni tangga. Aduh. Mudah2xan suara gedebuk2xnya tidak mengganggu tetangga bawah rumah ….
Jam 5:30 sore lebih sedikit.
”Pingpong …”
Ternyata tepat waktu juga, pikir saya sambil membukakan pintu.
Hani nongol dengan wajah sibuk,”PRnya belum selesai. Masih banyak.” Hani langsung menuju meja belajarnya, melanjutkan mengerjakan PR.
Jam 6 sore.
Hani istirahat sejenak. Sesibuk apa pun, acara nonton TV di NHK Education dari jam 6 sore sd jam 7 tidak terlewat. Acaranya memang menarik siiih. Saya saja, yang orang dewasa, suka. Sambil nonton “Ojare maru”, “Ramtaro” dan “Tensai Terebi kun MAX”, Hani menikmati makan malam kesukaannya, Indomie kuah pakai telor, plus nasi sedikit, dan teh hangat.
Jam 7 malam.
Hani mengerjakan PR lagi.
“Masih banyak PRnya?” tanya saya.
“Masih.”
“Kalau nggak selesai hari ini, bagaimana?”
”Kalau nggak selesai, bu Guru bisa marah.”
”Biar deh bu Guru marah. Paling2x, teman2x yang lain juga nggak selesai,” kata saya.
Hani tak menghiraukan. Sibuk lagi dengan PRnya. Saya buatkan teh hangat segelas lagi, saya bantu merautkan pensil, saya pijat tangannya tiga kali ketika Hani mengeluh tangannya linu. Iya laaah. Menulis sebanyak itu. Akhirnya, setelah mendapat 6 halaman tulisan lebih sedikit, Hani berkata, ”Owarimashita (selesai)”.
Hhhhh, saya ikutan menarik napas lega. Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Saat itu sekitar jam 9:30 malam.
Jam 10:00 malam kurang sedikit.
Hani siap tidur. Meski berkata, ”Aduuuh, nggak bisa tidur nih”, namun tak sampai 3 menit berikutnya, Hani sudah tak menyahut ketika saya panggil.
Sibuk sekali Hani hari ini. Mudah2xan besok normal kembali, artinya, PR Hani seperti hari biasa, yang bisa sejam selesai. Tidak seperti hari ini, yang butuh 4 jam lebih untuk bisa selesai. Amin3x.
Rabu, 24 September 2008
sekarang kayaknya ibunya juga ikut2an sibuk ya, blognya dah lama gak diupdate nih ^-^
wah sibuk banget ya Bu anak kecil, sampek segitunya ngerjain PR. anak2 di OZ mah sukanya gaul melulu (setahuku se… )
Oktober 8, 2008 pada 5:48 am
wah …. luar biasa Bu