Hi hi hi !

Minaga 2

Posted by: nanik on: September 21, 2008

Sebagian masakan yang sempat terjepret

Sebagian masakan yang sempat terjepret

Menjelang saat berbuka, peserta semakin banyak berdatangan. Hampir seluruh anggota PI Saijo beserta keluarga hadir. Mbak Hendri, Teh Euis, mbak Nanik, mbak Isma, mbak Fitri (Piti), mbak Nisfu, mbak Widi, mbak Anik-Dokhi, mbak Christin, mbak Titin, mbak Poppy, mbak Ida (dari Mihara), mbak Afni dan mbak Krisna. Karena hampir semuanya kebagian jatah memasak, maka hampir semuanya datang dengan membawa buah tangan andalan, seperti rendang, bakwan, bakso, sop, rempeyek, es teler, kerupuk udang, bihun goreng, ikan bakar, ayam goreng, risoles, pastel, apel dan banyak lagi yang lainnya. Hehehe … jadi ingat geng PKL (pedagang kaki lima) dekat rumah di Indonesia :) Btw, ada yang tertinggal nggak ya? Ah iya, mbak Mai absen. Kehadirannya diwakilkan kepada dua buah semangka endhut, yang sejak sehari sebelumnya sudah dititipkan (kedip mbak Mai).

Bapak2x/mas2x yang hadir juga banyak. Saking banyaknya sampai tidak bisa ingat semua (baca: tidak tahu namanya :) ). Yang diingat cuma yang caem-caem seperti pak Ade, pak Arno, pak Ferry, pak Gus Pur, pak Ludi, pak Iyan, pak Taufik, pak Soni, pak Dokhi, pak Dedi, pak Ardi, pak Tri, pak Nia dan suami mbak Afni. Buah tangan bapak2x kebanyakan minuman botol dan nasi. Hanya pak Taufik yang tampil beda dengan membawa sambel super pedas. Ada-ada saja idenya untuk membuat peserta ter-huuuah-huuuah kepedesan (hihihi …).

Meskipun banyak yang datang dengan membawa buah tangan, bukan berarti “membawa sesuatu” bersifat wajib. Datang orang saja sebenarnya sudah cukup, tidak perlu bawa macam-macam. Yang penting bukan buah tangannya, tapi niatan untuk mencari ilmu dan memperkuat keyakinan dengan buka bersama, tarawih berjamaah, tadzarus bersama, mendengarkan nasihat (ceramah) bersama. Untung kalau bisa dapat pahala lebih. Tapi, kebanyakan ibu2x mengincar bonus pahala dari jerih payah memasak. “Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.” Kira2x dapet nggak ya Ibu2x? Mudah2xan yaaa. Amin3x.

Berbuka yuuuk!

Berbuka yuuuk!

Senangnya memperhatikan hampir semua peserta menikmati hidangan berbuka yang istimewa. Jika biasanya para bujangan (baik asli maupun lokal) berbuka sendirian di rumah dengan menú sederhana; seperti teh manis, nasi dan kreasi telor atau kreasi sambal (mungkin lho …); para bapak/ibu berbuka bersama keluarga; para pekerja berbuka bersama mesin2x di tempat kerja; hari ini, bisa berbuka rame-rame dengan menú aneka masakan khas Indonesia. Itu belum seberapa, sebentar lagi kerinduan untuk shalat tarawih berjamaah, tadzarus dan mendengarkan ceramah pun akan terpuaskan. Seluruh rice cooker berisi nasi, yang sebelumnya penuh, hampir semuanya menjadi bersih dan licin, kecuali satu rice cooker berisi nasi kuning yang nasinya tidak matang. Hihihi …. Mungkin ada kesalahan teknis saat bapak2x/mas2x memasak nasi kuning tersebut; mungkin mengisi berasnya kebanyakan, atau mengisi airnya terlalu sedikit, sehingga nasi tidak bisa matang. Bisa ditebak, rice cooker yang satu ini tidak bersih dan licin seperti teman2xnya yang lain.

Tadzarus

Tadzarus

Sambil menunggu kedatangan pak Ustadz; yang menurut selentingan, kebablasan sampai ke Hiroshima eki, padahal teman yang menjemput menunggu beliau di Saijo eki; sebagian besar peserta melakukan tadzarus. Khusus untuk PI Saijo, melanjutkan bacaan Alqur’an yang setiap hari dibaca bersama dalam tadzarus online usai Subuh. Oh iya, Tadzarus online yang biasanya dimoderatori mbak Piti, merupakan aktifitas PI Saijo yang dijalankan sejak hari ke-3 (bener ya?) bulan Ramadhan.

Jam 21:30. Pak Ustadz masih belum datang juga. Banyak peserta yang dari awal berencana untuk tidak menginap, harus pulang sebelum mendengarkan ceramah. Gerbang masuk Minaga ditutup jam 22:00, sehingga siapapun yang ingin pulang, harus cepat2x supaya tidak ketutupan. Mbak Krisna termasuk orang yang sangat kecewa karena harus pulang tanpa mendengarkan ceramah. Mbak Krisna tuh, wanita Indonesia yang menikah dengan orang Jepang, dan sudah memiliki 2 anak perempuan; yang besar kelas 6 SD dan yang kecil berusia sekitar 3 tahun. Dia datang bertiga dengan anaknya, ikut rombongan mbak Afni dan suaminya. Dengan ikutan buka bersama, dia ingin anaknya (terutama yang besar) tahu bahwa yang melakukan shalat, puasa, bukan hanya mereka bertiga saja, tapi banyak orang Islam lain yang melakukan hal yang sama. Bisa terbayangkan, betapa berat perjuangannya untuk menjalankan rukun Islam dan menjadi panutan bagi anak2xnya di tengah-tengah masyarakat yang tidak sepaham. Ketika mbak Krisna mengatakan,”Tolong ya, bener lo ya, saya diajak kalau ada acara-acara seperti ini”, terbayang kerinduannya akan suasana kebersamaan Islami.

The most wanted person on that day, pak Ustadz Prof. ?? (lupa namanya), yang khusus terbang dari Indonesia, akhirnya datang juga. Setelah dijamu dengan nasi kuning setengah matang (mohon maaf pak Ustadz, bukan maksud kami untuk tidak menghormati bapak, tapi karena benar2x terpaksa, karena nasi yang lebih baik sudah tidak ada. kata pepatah, tidak ada rotan, akar pun jadi ….), beliau langsung ditodong ceramah. Materi ceramah usai tarawih cukup menarik. Beberapa yang bisa diingat, al:
”… Apa sih yang harus kita lakukan untuk mengisi hidup ini? Pada hakikatnya, manusia hidup di dunia hanyalah untuk menjalankan perintah Allah SWT. Kita belajar, mencari nafkah, hanya untuk mencari ridla Allah SWT. Jangan sampai ada sedikit pun untuk kepentingan dunia. Karena masalah dunia sudah ada jaminan dari Allah SWT, yang belum ada jaminan adalah masalah akhirat … “
“ … Jangan terlalu ngoyo dalam masalah dunia. Serius/sungguh2x itu harus, tapi jangan ngoyo, sampai tidak ada waktu untuk sholat, ngaji …”
“… Kita harus berterima kasih kepada orang miskin. Contoh, abang becak. Pernah nggak terbayang perasaan mereka saat mengayuh becak di terik matahari, sementara penumpang menikmati kayuhan dengan santai. Sudah capek, abang becak kadang2x masih dapat bonus bau surga, kalau penumpang kebetulan sedang sakit perut …”
Mungkin hanya itu point2x penting yang bisa diingat. Maklum, ibu2x mendengarkan ceramahnya sambil bolak-balik ke ruang makan, untuk menyiapkan teh dan menanak nasi buat sahur besok.

Ibu2x yang bertahan sd pagi

Ibu2x yang bertahan sd pagi

Anggota PI Saijo yang menginap hanya 5 orang, mbak Nisfu, mbak Piti, mbak Widi, mbak Ida, mbak Nanik, plus para penggembira cilik, Fida chan, Azalia chan, Hana chan, Taqi kun, Hani chan dan Roy kun. Kami ber-11 tidur bersama di salah satu ruang tidur wanita. Sulit sekali untuk mengawali tidur, terutama karena para penggembira cilik bergantian nengok ke luar. Suara ”sreeeg” geseran pintu yang berulang kali, menjadi penyebab utamanya. Setelah beberapa lama, karena kecapekan, kami semua tertidur juga.

Jam 24:00. Suasana sunyi sepi. Orang-orang sudah tidur. Bu X yang sejak beberapa menit lalu sudah terjaga, membuka mata. Gelap. Sesaat kemudian, ketika mata mulai terbiasa, terlihat bayangan ibu2x dan anak2x yang sedang tidur. Bagaimana ya? Jadi, enggak, jadi, enggak. Aduh, bagaimana? Mau ke kamar kecil sendiri, ngeri … Tapi, rasanya sudah tak kuat menahan lebih lama lagi. Nekat ah! Pelan sekali, bu X bangkit, berjalan ke arah pintu, menggesernya ”sreeeg”. Meski lorong terang benderang, tapi sunyi sekali. Mana jam 24:00 lagi. Di film2x horor, hantu2x biasanya keluar setelah lewat jam 24:00. Jangan2x, hantu di sini pun ngikutin kebiasaan teman2xnya yg ada di film. Hiiii. Karena perut tidak bisa diajak kompromi, Bu X pun membulatkan tekat. Pelan tapi pasti, langkahnya menuju ke kamar kecil wanita. Untung, kamar kecil pun terang benderang. Cepat-cepat bu X membuka pintu toire, dan ”sssshhhhh ….”, penutup WC membuka sendiri. Bu X terpana, belum habis kekagetannya, ”currrrrrr ….”, air di WC mengucur. ”Waaaaaaa ….” hanya itu teriakan bu X sesaat sebelum terdengar suara ”blug …”, seperti suara benda besar jatuh. Bapak2x yang ruang tidurnya paling dekat dengan kamar kecil wanita, segera berlarian. Mereka memindahkan bu X yang pingsan ke ruang tidur wanita. Setelah siuman, dengan terbata-bata bu X berkata, ”Ada hantu ….” Suara seseorang menimpali, “Di mana hantunya bu?” “Ada di WC. Waktu saya ke toire, tiba2x penutup WC membuka dan air mengucur ….” Gubrak! Beberapa orang tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum. Walah bu X! WC-nya kan otomatis, mesin yang menggerakkannya, bukan hantu. Hehehe … (baca dari belakang: .fitkif ini fargaraP ¡ayacrepid nagnaJ)

Sabar menunggu nasi periode 2

Sabar menunggu nasi periode 2

[caption id="attachment_149" align="alignleft" width="176" caption="Buah pengganti nasi"]Buah pengganti nasi[/caption]Pas sahur, ada insiden yang cukup menghebohkan. Nasi habis sebelum seluruh peserta makan sahur. Aha! Beberapa orang, termasuk pak Ustadz, harus menunggu matangnya nasi periode 2. Ibu2x cengar cengir dengan kejadian ini. Mbak Nisfu berinisiatif mengupas apel dan ketimun, membagikannya ke peserta, “Sambil menunggu nasi, buahnya silahkan dinikmati dulu.” Hehehe, tak ada nasi, buah pun jadi ….

Setelah sholat subuh ada ceramah lagi. Kali ini tentang 9 tips untuk menjadi orang sukses, di antaranya kerja keras, cita2x yang besar, manajemen waktu, prioritas, dan apa lagi ya …. Gomennasai, benar2x lupa. Waktu itu terlalu serius mendengarkan. Semakin serius semakin cepet lupa ….

Foto sebelum pulang

Foto sebelum pulang

Acara terakhir adalah bersih-bersih. Ruang tidur, ruang makan, kamar kecil, semua tempat yang telah digunakan dibersihkan, dikembalikan ke keadaan semula. Sebelum pulang ke rumah masing2x, di depan penginapan Minaga, dilakukan foto bersama, aktifitas wajib yang tidak boleh dilupakan.

Alhamdulillah, 17 jam kebersamaan sudah dilalui. Mudah2xan membawa berkah bagi kami semua. Amin3x.

Tamat.

4 Tanggapan ke "Minaga 2"

Akhirnya tamat deh ceritanya :D
Aduh itu bapak2 kalo tau dibilang caem ma bu nanik pasti udah pada kembang kempis hidungnya hihihihi..
btw, ustadz gak makan nasi kuning kok waktu malem, tapi makannya pas sahur hehehe.. duh kalo inget itu kayaknya berdosa banget ya sama ustadz :(

Cerita fiktifnya menipuuu hehe diawal cerita saya kira itu beneran bu nanik kebelet mo pipis :p tp pas sampe bagian pingsan2an, br yakin klo itu fiktif. Secara klo beneran kan pasti ibu2 yang lain jg ikutan heboh hehe :D

sangkyu buat reportasenya yaa..
Otsukaresama deshita ^-^

Lega rasanya sudah menamatkan liputan Minaga. Kalau nulisnya di-lama-in takutnya yang duduk manis sudah menghasilkan gunung yang tingginya ngalahin gunung Fuji :)
Pak Ustadz makan nasi setengah matangnya pas sahur yach? Aduh, gomen. Lupa!
Hehehe … baru tahu kalau fiktif setelah baca bagian “pingsan” ya? Heibat! Pasti banyak yg mengira kejadian itu beneran, terutama yg nggak ikutan nginap dan nggak baca petunjuk di bagian akhir paragrap. Itu tuh, yang harus dibaca dari belakang ….
Sangkyu balik, mudah2xan liputannya menghibur.
Otsukare balik juga :)

aduuuhh mbak Nanik…. aku sampai sakit perut menahan ketawa…lha pas baca Azalia dan papanya lg tidur….
wis pokoke gak salah diangkat jd ketua bagian reportase PI Saijou….. Great job sister…

Kalau ingin ketawa jangan ditahan bu, karena di sini, obat sakit perut sulit dicari lho :) (ngebayangin bu Iyan mau beli obat sakit perut di Saijo Plaza, no English lho yaaa …)
Hihihi … kalau diangkat jadi ketua bagian reportase, sy menjadi malu mode on. Tukang reportase kan biasanya bawa kamera yg guedhe, sibuk catat ini itu, sibuk wawancara, serius …. Lha yg ini …, cuman kliwis-kliwis, cengengas-cengenges, sambil momong dan bawa kamera kecil, taking picture-nya nggak gesit lagi, jadi kadangkala suka nodong temen “nanti sy dikirimin fotonya yach …” :) hihihi

Tinggalkan Balasan


  • nanik: Amin bu Lilik. Saya ikut berdoa buat ibu.
  • nanik: Saat suami ngurus cuti tahun 2007 lalu, sepertinya enggak terlalu susah (meski ribet juga sih ...). Detailnya sy tidak terlalu paham, yg jelas ada sya
  • fety: mbak nanik senang baca postingan ini, secara lagi mencari semangat sendiri :) mbak, ngurus cuti di luar tanggungan negara itu susah gak yah? boleh sha