Posted by: nanik on: September 21, 2008
Gejalanya sudah terlihat sejak kemarin malam, ketika si Roy gelisah dalam tidurnya, beberapa kali terbangun dan mengigau, sementara suara napasnya terdengar terengah-engah. Dan benar, ketika pagi hari ini saya tanya, “Ke sekolah ya?”
Roy bilang, “Enggak.”
“Ibu harus bilang apa ke bu Guru?”
”Bilang saja batuk,” katanya tak bersemangat, sambil tiduran di atas karpet di depan TV.
Saya ambil HP, menelpon Mori san, ketua grup ibu2x yang anak2xnya berangkat ke TK dari pangkalan bis, mengabarkan bahwa hari ini Roy absen karena batuk. ”OK,” kata Mori san. Jika tidak dihubungi, Mori san akan kebingungan menunggu kami, saat bis harus berangkat pada jam 08:07.
Saya paksa Roy makan beberapa sendok sebelum minum obat. Saya selalu menyiapkan obat ”Kaze” (masuk angin) untuk anak2x. Siangnya sy bawa Roy ke dokter Gajah. Pak dokter bukan menangani pasien gajah lho. Karena tidak tahu nama aslinya dan karena ada patung gajah di depan tempat prakteknya, secara otomatis kami memanggilnya pak dokter Gajah. Pak dokter meminta sy untuk mengambil sampel kencing Roy. Kami berdua masuk ke kamar kecil. Setelah beberapa lama mencoba, nggak keluar2x juga. Sebelum berangkat ke dokter, Roy sudah pipis, jadi sekarang susah sekali mau pipis lagi. Pak dokter maklum. Akhirnya kami pulang dengan diberi obat minum dan semacam salonpas untuk anak2x. Pak dokter berpesan untuk memberikan sebanyak mungkin air; boleh air minum, ataupun kuah sayur saat makan.
Sesampai di rumah, saya buat sup ayam plus macam2x sayuran (kentang, wortel, kubis). Meski sedikit, Alhamdulillah berhasil masuk ke tubuh Roy. Seharian itu, sepi sekali. Roy hanya tidur atau tiduran sambil nonton TV. Sangat berbeda dengan hari biasa, yang senantiasa ramai oleh ulahnya; lompat-lompat di kasur, main tembak2xan yang suara “Jedhar … jedhar …”-nya seringkali mengagetkan saya, tangisnya ketika bertengkar dengan kakaknya, cerita fiktifnya sambil menggambar. Suara-suara bising itu kadangkala membuat saya tak sabar, apalagi ketika saya sedang serius membaca atau mengetik. Tetapi hari ini, sepi. Saya rindu celotehnya. Saya lebih memilih merasa terganggu oleh ulahnya, daripada harus melihat Roy yang tak bergairah dan mendengar suara napasnya yang terengah2x.
Rabu, 17 September 2008
Waah, Roy kun beberapa hari sebelum pesantren kilat itu sempet sakit ya… Alhamdulillah pas pesantren kilat udah genki, gak kliatan deh klo abis sakit, apalagi abis gak mandi beberapa hari hehehe…
Cuma pas foto bareng2 yang saya punya, Roy kun gak kliatan, ngumpet dibelakangnya Hana chan. Malu yaaa belum mandii hihihi .. joudan… joudan ^-^
Gak lagi,
pulang dari pesantren kilat malah hana chan jadi suka bilang
“hmmm… sedapnya bauuuu…” hehehe sambil begaya kayak ipin ade-nya upin
September 21, 2008 pada 7:36 pm
Roy kun, smoga lekas sembuh.
Oh yah, mbak nanik, Nama dokternya adalah Honjo Sensei