Posted by: nanik on: September 9, 2008
Ketika pak Kiki dari Trans TV mengirim email ke milist PPI Hiroshima, mencari anak usia 9 sd 12 sebagai pemeran anak dalam episode Surat Sahabat yang biasa ditayangkan di Trans TV, saya tidak merespon. Karena memang tidak memiliki anak sesuai dengan kriteria umur yang diinginkan. Lama setelah itu, ada email dari mas Fikri Rumi (mantan anggota PPI Hiroshima yang sudah kembali ke Indonesia) dan pak Kiki via japri, bermaksud untuk meminjam anak saya. Sebelum menjawab email mereka, saya diskusi dulu dengan Hani. Awalnya saya kira Hani akan menolak, tapi betapa terpana-nya saya melihat reaksi Hani yang sangat antusias dengan tawaran masuk TV. Dengan harapan mudah2xan anak saya mendapat pengalaman berharga, akhirnya, ok …, saya bersedia meminjamkan Hani.
Sepengetahuan saya, Surat Sahabat itu salah satu tayangan Trans TV, yang mengisahkan tentang kehidupan anak-anak di berbagai kota dan pelosok di Indonesia, dan juga anak-anak Indonesia yang sedang berada di luar negeri. Mungkin tujuannya untuk mengenalkan anak dengan ragam kehidupan anak-anak di berbagai daerah, yang mungkin berbeda dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Hari Sabtu, 30 Agustus 2008, rombongon kru Trans TV (pak Kiki, mas Ruri dan mbak Frei), beserta 3 orang Jepang yang bertugas sebagai penerjemah, pengatur kegiatan, dan tukang angkat-angkat kamera, datang ke rumah untuk mewancarai Hani. Besok dan lusanya, dilanjutkan dengan shooting. Saya, seperti biasa, bertugas menemani Hani.
Tanggal 31 Agustus shooting di Hiroshima;
# Hani mewawancarai pak Sunao Tsuboi, Presiden JCAHBSO, salah satu korban bom atom yang masih hidup hingga sekarang. Walaupun hanya mengerti bahasa Jepang sepatah-sepatah, melihat ekspresi pak Sunao saat bercerita, saya bisa merasakan kengerian situasi saat itu. Berikut petikan tulisan pak Sunao ttg kejadian tanggal 6 Agustus 1945, saat bom atom dijatuhkan di Hiroshima.
“… Many charred bodies were lying on the ground and the dead bodies of the people who jumped into the river seeking water were still floating there. There were survivors whose eyeballs had popped out and were dangling and whose skin was hanging down as well. Others were crying and groaning with blood all over their bodies. I was also one of them and felt that I saw a ‘living hell on earth’. The city of Hiroshima died then. …”
Ngeri ….
# Hani melihat-lihat taman peringatan perdamaian Hiroshima; kubah bom atom, cenotoph, musium peringatan perdamaian Hiroshima. Di musium, saya menjadi speechless. Benar-benar mengerikan melihat peninggalan sejarah, sesaat setelah bom dijatuhkan. Apalagi pas melihat patung replika orang-orang terluka, yang mencoba berjalan dengan baju compang-camping, kulit dan daging dari tangan dan kaki menggelantung. Aduuuh. Ihik, ihik ….
# Hani bermain badminton bersama teman-temannya di koen (taman) dekat rumah. Anak tetangga sebelah rumah, Mai chan (kelas 6 SD), dan anak tetangga depan rumah, kakak beradik Siho chan dan Kaho chan (kelas 2 SMP dan 5 SD), diperbantukan. Bapak dan Ibu anak-anak ini ikutan heboh, dengan mengintip2x dari balik jendela. Hehehe …. Mereka sepertinya malu mau ikutan nonton secara langsung
Tanggal 1 September shooting di pulau Etajima dan Kure;
# Hani mengikuti upacara pembukaan dan kegiatan belajar di SD Kirikushi di pulau Etajima. Bapak Kepala Sekolah, bapak guru kelas 3, murid-murid kelas 3, semuanya sangat ramah. Hani pun sangat enjoy mengikuti semua kegiatan belajar dan bermain. Bahkan ketika setiap murid diminta untuk menuliskan sesuatu yang paling menarik selama liburan musim panas, Hani menulis “Kunjungan ke SD Kirikushi adalah yang paling menarik. Meskipun merasa malu, tapi karena semua mengajak berbicara dengan ramah, kunjungan menjadi sangat menyenangkan”. Ini benar-benar tulisan Hani sendiri lho …, bukan tuntutan skenario.
# Hani melihat-lihat musium kapal di Kure.
Alhamdulillah, 2 hari yang sangat berbeda dari biasanya sudah terlewati. Ternyata shooting itu melelahkan. Untuk satu adegan, ngambilnya berkali-kali, karena akting kurang pas atau karena kameraman ingin mengambil dari angle yang berbeda.
Alhamdulillah, sepertinya Hani menikmati 2 hari ini, mendapat pengalaman baru, teman2x baru di pulau Etajima. Mudah2xan bermanfaat. Amin3x.
Selamat buat mbak Nanik dan Hani chan…. bener2 sebuah kesempatan emas nan langka…semoga bisa lihat hasil syutingnya ya… Selama ini saya penggemar acara surat sahabat lho…:)
Senang sekali bisa membaca “Cerita keluarga Bu Nanik” lewat blog ini, nggak nyangka kalau Bu Nanik yang pendiam ini ternyata pandai menulis. Bahasanya sederhana, lancar dan enak dibaca. Saya teringat ketika masih di FTIF (sekarang sudah pindah ke FTSP), tatkala Bu Nanik “tidak jadi berangkat studi lanjut S-3″, karena ada calon baby dikandungannya. Ada raut kecewa diwajah beliau, karena cita-cita yang sudah didepan mata ternyata harus gagal karena faktor non teknis. Saya sempat berkomentar, sabar Bu … ini adalah rencana dari Yang Maha Berkehendak, yaqinlah suatu ketika DIA akan memberikan yang terbaik untuk Ibu.
Alhamdulilah … ternyata kesabaran itu membawa hasil, terbukti Bu Nanik jadi juga berangkat ke Jepun, dengan sponsor yang lebih bonafid, artinya uang sakunya lebih besar. Gitu kan Bu ….
Selamat berjuang Bu, salam untuk Bapak dan anak-anak, dari jauh saya ikut berdo’a semoga Ibu sekeluarga diberi kekuatan oleh Nya, sehingga bisa berhasil menempuh studi Ibu. Saya masih berharap suatu ketika masih bisa membantu Ibu untuk menggapai gelar Guru Besar. Amin.
Wassalam,
Sunarno
Benar Bu, banyak kenangan indah selama saya bertugas di FTIF, meski sama-sama di ITS, rasanya beda sekali tempat yang baru ini dengan FTIF yang dulu (saat Bu Nanik, Pak Iyan dll masih belum berangkat ke Jepun).
Di FTIF ikatan kekeluargaannya begitu kental (mungkin karena jumlah dosennya masih sedikit ya Bu), sehingga antara dosen dan karyawan seperti saudara sendiri. Kalau ada dosen/karyawan yang sakit atau kesripahan kita saling mengunjungi, rasanya tak ada jarak …. seolah menyatu menjadi satu keluarga.
Beda dengan tempat tugas saya yang baru, karena jumlah dosen dan karyawannya lebih dari 400 orang, maka jarang yang saya kenal. Paling teman satu ruangan yang akrab, selebihnya hanya say hello saja kalau ketemu.
Sedih memang, ketika saya harus berpisah dengan keluarga besar FTIF, kesedihan yang masih saya rasakan hingga sekarang. Maka tiap bulan mesti saya sempatkan berkunjung ke Jurusan TC yang baru maupun ke gedung FTIF yang lama, sekedar melepas kerinduan kepada teman-teman lama. Teman yang sudah seperti saudara saya sendiri.
Maka bu, saya masih berharap diakhir tugas saya di ITS nanti, saya akan kembali ke FTIF.
Saya ingin membantu Bu Nanik, Pak Iyan, Pak Agus dan para dosen FTIF lain meraih jabatan Guru Besar.
Saya akah bangga sekali, kalau itu terjadi.
Wassalam,
Sunarno
September 11, 2008 pada 3:26 am
Halo Bu Nanik. Waaaaaaah, gak nyangka nih. Ternyata Bu Nanik gemar menulis…tepatnya pandai menulis; penyaluran hobi dan bakat terpendam nih ya
Yg rajin ya Bu nulisnya. Maksudnya yg rajin juga jalan2nya hehehe… Buat Hani-chan, selamat ya, keren-nya masuk Surat Sahabat. Kalo utk yg udah dewasa gak ada ya, Bu ;p -aan-