Hi hi hi !

Pengalaman Mendapatkan SIM Jepang

Posted by: nanik on: Mei 4, 2007

Pada hari Rabu, tanggal 2 Mei 2007, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (lho, apa hubungannya …), setelah 4 kali menjalani tes mengemudi, akhirnya saya berhasil juga mendapatkan SIM Jepang untuk mobil manual. Alhamdulillah, saya benar-benar bersyukur bisa mendapatkan SIM dan bisa merasakan dites mengemudi. Di Indonesia, susah lho mendapatkan pengalaman seperti ini. Dulu sewaktu mendapatkan SIM A di Indonesia, prosesnya gampang banget. Cuma butuh satu hari dan tanpa tes. Waktu itu, saya minta dites (pengen banget merasakan dites), tapi malah tidak boleh J Meskipun di Indonesia menyopir adalah pekerjaan sambilan selain mengajar (dalam satu hari, rata-rata 6 sks ngajar dan 4 sks nyetir J), ternyata tidak mudah lho lulus tes mengemudi di Jepang. Buktinya, butuh 4 kali tes, baru bisa lulus. Beberapa tips berikut mudah-mudahan berguna untuk teman-teman yang akan atau sedang berusaha mendapatkan SIM Jepang :

1. Baca pengalaman mendapatkan SIM yang ditulis oleh teman-teman Indonesia sebelumnya. Untuk kasus saya, saya baca pengalaman Pak Bagus dan Pak Angga. Saya beruntung, karena saya mengerjakan tes tulis yang soalnya sama persis dengan yang ditulis Pak Bagus. Menurut saya, jawaban dari 10 soal tersebut adalah Benar semua. Saya lolos dari tes tulis.

2. Baca buku “Rules of the Road” setidaknya sekali. Jika malas, cukup baca halaman belakang yang berisi daftar rambu-rambu lalu lintas. Ini penting lho! Karena selain ditanyakan pada saat tes tulis, pengetahuan mengenai rambu-rambu juga berguna pada saat tes mengemudi.

3. Implementasikan betul-betul pengalaman Pak Bagus dan Pak Angga, kecuali pengalaman tentang melongok kolong mobil sebelum mobil dijalankan. Selama 4 kali tes mengemudi, saya tidak pernah sekalipun melongok kolong mobil (Alasannya, karena saya tidak bisa melakukan hal tersebut tanpa perasaan geli dan ingin ketawa. Lha wong jelas, di bawah mobil tidak ada apa-apanya … ). Tapi Alhamdulillah, bisa lulus :) . Petuah Pak Angga mengenai aturan belok kiri dan belok kanan, yaitu lihat spion dan menolehkan kepala secara eksplisit ke kiri atau ke kanan sebelum belok, harus benar-benar dipatuhi. Juga petuah Pak Bagus bahwa kita tidak boleh menyisakan space yang terlalu lebar sebelum belok kiri untuk mencegah sepeda motor masuk dari sisi kiri, harus dipatuhi.

4. Lakukan prosedur yang benar untuk menghentikan mobil. Yaitu, bemper mobil tidak boleh melewati tiang hitam kuning yang ada di samping kiri. Ban mobil sebelah kiri sebaiknya berjarak kurang lebih tiga puluh sentimeter dari garis putih di sebelah kiri. Tidak boleh terlalu jauh dari garis putih (terlalu ke tengah) atau menindih garis putih, atau bahkan melewati garis putih (terlalu ke pinggir). Ada kejadian, seorang peserta tes memarkir mobilnya terlalu ke pinggir, sehingga Instruktur tidak bisa keluar, karena pintu mobil tidak bisa dibuka tanpa membentur paving. Saya ketawa melihat kejadian ini. Waah, mungkin peserta tes ini sengaja ’ngerjain’ Mr. Instruktur :)

5. Pada saat tes mengemudi, sebaiknya kita membayangkan tengah berada di tengah lalu lintas yang ramai, banyak orang lalu lalang, sepeda dan mobil. Tips ini saya terapkan pada tes ke-4, sehingga saya berhati-hati betul dalam mengemudi dan tidak canggung (kata lain dari tidak geli) berakting toleh kiri dan kanan sebelum belok.

6. Berdoa.

Menurut pak Instruktur, kesalahan-kesalahan yang saya lakukan pada saat tiga kali tes mengemudi adalah :
• kesalahan saat belok kiri atau kanan, yaitu tidak menoleh secara eksplisit ke kiri atau ke kanan, dan menyisakan space yang terlalu lebar di sebelah kiri sebelum belok kiri
• pernah sekali menerobos lampu merah :)
• memarkir mobil terlalu ke tengah dan bemper mobil melewati tiang hitam kuning
Demikian, sekelumit pengalaman saya. Mudah-mudahan berguna.

13 Tanggapan ke "Pengalaman Mendapatkan SIM Jepang"

wah.. selamat bu udah dapat sim Jepang. Btw ceritanya lucu lho. Keep writing bu, ditunggu cerita berikutnya ……

Terima kasih comment-nya bu. Ditunggu comment berikutnya, pada cerita berikutnya yaaaa.

eh tesnya dalam bahasa apa itu..
bahasa inggris apa bahasa jepang apa bahasa jowo…
selamat deh kalau bisa gol dapat sim…
hebat. aku aja belum pernah nyetir di jepang..

Kalau bisa backgroundnya jangan abu-abu…
suram kesannya…hiiii…

Tes dalam bahasa Inggris dong. Kalau bahasa Jepang nggak ku-ku. Kapan2x kalau main ke sini, tak supiri. Mau kan? :) Mengenai background, enaknya warna apa ya? Saya coba ganti deh. Thanks comment-nya pak Yudi :)

Ini yang comment pak YP ya bu, pak YP main dong di blog saya: yuhana.wordpress.com ,kalau sempat beri comment ya .. he he :)
Oh ya bu, emang kalau backgroundya kesannya suram lho

Hah ada aja SIM Jepang, aku orang indonesia jadi senyam senyum baca cerita kamu, salm kenal

SIM singkatan dari Surat Ijin Menikah

Bu Yoo, pak Yudi yang ini bukan pak Yudhi P di Jurusan. Pak Yudi yang ini teman semasa S2 di UI :)
Pak Ichsan bisa saja …. Salam kenal juga yach.

Wah… ini blognya bu Nanik ya….

Ijin mampir ya Bu, saya mardi, bekas mahasiswanya Ibu :D nyampe ke sini dari blognya bu Umi (saya kesasar ke blognya Bu Umi dari blog teman saya yang lain)

Oh iya Bu, di Jepang ada calo atau enggak ya?

Pengalaman yg lainnya dnk bu onegai shimasu, soalnya ada rencana mau kerja di jepang nih, yahh klo diibaratkan perang tuh mempelajari medan pertempurannya dulu…. hehehe:d

Ichsan, Mardun dan Naz, welcome to my blog.
Ada2x saja Ichsan. SIM ini bukannya ijin untuk menikah lho.
Mardun ini apakah Mardi Brilian Saleh?
Untuk Naz, semoga bisa segera menyusul saya belajar di negeri sakura. Kalau ada waktu dan kesempatan, Insya Allah kan kutulis pengalaman yang lain.

Tinggalkan Balasan


  • Tidak ada
  • nanik: Amin bu Lilik. Saya ikut berdoa buat ibu.
  • nanik: Saat suami ngurus cuti tahun 2007 lalu, sepertinya enggak terlalu susah (meski ribet juga sih ...). Detailnya sy tidak terlalu paham, yg jelas ada sya
  • fety: mbak nanik senang baca postingan ini, secara lagi mencari semangat sendiri :) mbak, ngurus cuti di luar tanggungan negara itu susah gak yah? boleh sha