Posted by: nanik on: Desember 17, 2009
Zaman dulu, aku nggak protes (alias mengajukan permintaan untuk beli baru), meski bertahun-tahun selama di Jurusan aku memakai komputer jaman jadul yang butuh waktu lebih dari 3 menit untuk booting. Untungnya, aku punya kebiasaan ngopi setiap kali tiba di Jurusan. Sehingga saat-saat menunggu proses booting yang membosankan, bisa kupakai untuk meramu kopi yang rasanya pas
Saat nunggu running program yang komputasinya tinggi – jelas komputerku jalannya lemot banget – biasanya kusibukkan diriku dengan pekerjaan lain, seperti ngoreksi, baca diktat kuliah, dll, dll, yang jumlahnya bejibun. Kadang2x kusibukkan diriku dengan bikin kopi lagi, waw, waw, maniak kopi. Alhasil, meski lemot-nya komputer cukup mengganggu, tapi masih tetep ok-lah buat aku. Selagi masih bisa memanfaatkan komputer ini, nggak pernah terpikir olehku buat minta ke Jurusan untuk nyediain komputer baru. Sampai akhirnya pak Yudhi (kajur informatika saat itu), ngetawain aku dan komputer lemot-ku “mosok komputere koyok ngene, hehehe …” dan mengusahakan komputer baru buatku. Sejak saat itu, aku nggak perlu ngopi lagi untuk nunggu proses booting. -> padanan katanya adalah “neriman” alias “gak protesan”.
Zaman duluuu banget, ketika handphone dengan layar monochrome sudah termasuk wah, dan ketika orang2x di sekitarku sudah banyak yang menenteng hp ke mana2x, di kepalaku masih sering terlintas “telepon kan bisa di rumah or di kantor. ngapain sih nenteng telepon ke mana2x. hehehe ….” saat melihat orang2x ber-hp ria. Pernah juga tanya ke pak Was “handphone itu beda dg telepon kah? Kok pakai kartu segala?” Meski sudah dijelasin oleh pak Was, masih saja nggak ngeh dan nggak tertarik untuk pakai hp. Sampai akhirnya, aku mendapat masalah di jalanan – ban mobilku kempes. Seandainya aku bisa meminta tolong orang rumah …. Nah, saat itulah aku baru merasa ngeh dengan manfaat handphone – yang bisa dipakai di manapun saat diperlukan. Aku beli hp setelah kejadian itu. -> padanan katanya “agak o’on”.
Sebelum berangkat sekolah (sekolah yang terakhir ini maksudnya), nge-blog juga nggak pernah sekalipun terlintas di pikiranku. Saat itu, pikiranku tentang orang2x yang bikin blog adalah “kayak kurang kerjaan aja, hehehe …” Memang sih, waktu itu aku sibuk banget. Ya kerja, ya nyopir, ya ngurus anak, ya silaturahmi ke sodara2x, ya menghadiri undangan mantenan, sunatan, syukuran, dll …., sehingga merasa aneh dengan orang yang masih punya waktu untuk nge-blog. Dan yang terpenting, waktu itu aku masih belum menemukan satu alasan buat diriku untuk membuat blog. Nah, pas sekolah, di bulan2x awal aku agak kelimpungan gara2x bahasa Inggris. Meski sejak SMP sudah diajari bahasa Inggris dan setelah bekerja sering membaca diktat berbahasa Inggris, tapi karena nggak pernah mempraktekkan boso Londo dalam percakapan dan tulisan, aku agak kerepotan mengikuti kegiatan lab yang komunikasinya menggunakan bahasa Inggris – baik saat seminar maupun ngobrol dengan Prof dan teman2x lab, apalagi saat nulis paper. Belajar menulis dan memperbaiki bahasa Inggris menjadi alasanku untuk nge-blog. Nggak asyik dong kalau nulis capek2x tapi dibaca hanya oleh diri sendiri :) Akhirnya, jadilah blog-ku ini. Tulisan yang kumuat adalah tulisan2x bertema ringan, tentang kejadian di sekitarku, pengalamanku, yang bikinnya lebih gampang dibanding tema fiktif (gak jago ngayal sih), dan resiko “malu2xin” setelah dibaca orang nggak terlalu tinggi. Antara lain cerita tentang ttg anak2x, jalan2x dan sebangsanya. Tulisan bertema “agak berat” – paper hasil riset misalnya – biarlah hanya reviewer yang ngetawain. -> padanan katanya “gak pe-de”.
Ketika ibu2x di pengajian “PI Saijo” sudah ramai ngobrolin facebook, aku masih berkutat dengan pemikiran “walaaah, sempet2xnya facebook-an”
Dalam pikiranku, kalau punya facebook pasti jadi tambah repot. Teman2x akan banyak yang berkunjung ke facebook, say hello or something. Ndak sopan kan kalau teman2x datang ke rumah terus menyapa, tapi di-ignore (hehehe …, sd saat ini aku masih nganggap blog and facebook seperti rumah). Merespond sapaan teman2x pastinya butuh waktu, sedangkan sekarang saja email di inboxku jumlahnya ratusan yang belum sempat kubaca :( Sampai akhirnya adik dan keponakanku yang ternyata juga sudah punya FB memintaku untuk ndaftar FB supaya mereka bisa lihat foto kami, terutama fotonya si bungsu Nana. Walaaah. So, alasan awalku untuk ber-FB adalah supaya bisa memampang foto. Dalam perjalanan ber-FB yang belum lewat sebulan, aku bisa ketemu dengan teman2x (mulai dari teman SMP, SMA, kuliah sd teman sesama perantau) dan saudara2x di dunia maya, mengetahui aktifitasnya, foto2xnya dan menikmati komentar2xnya. Asyik juga ternyata …. -> padanan katanya “sayang adik dan keponakan”.
Posted by: nanik on: November 10, 2009
hujan, kau ingatkan aku
tentang satu rindu di masa yang lalu
saat mimpi masih indah bersamamu
terbayang satu wajah penuh cinta penuh kasih
terbayang satu wajah penuh dengan kehangatan
kau Ibu, oh ibu
Allah ijinkanlah aku bahagiakan dia
meski dia jauh
biarkanlah aku berarti untuk dirinya
oh Ibu, oh Ibu
By Opick
Posted by: nanik on: Juli 12, 2009
Saya menggunakan Canon IVIS HF20 untuk merekam kegiatan anak2. Dengan perangkat tersebut, file video yang dihasilkan, disimpan dengan ektensi “titik mts” (.mts). Begitu akan mengedit file tersebut, baru tahu kalau tak satu pun program media player yang sudah ter-install di komputer saya (windows media player dan media player classic) , dapat membaca file mts. Terpaksa, saya install Image Mixer, yang include di CD pada saat membeli kamera video Canon. Jang … jang … jang, akhirnya saya pun bisa menonton video anak2 di komputer menggunakan Image Mixer Player.
Saya pikir, Image Mixer juga punya fasilitas edit video, seperti memotong clip, menyisipkan judul, menggabungkan clip. Ternyata tidak. Jadi, saya harus menggunakan satu-satunya program untuk mengedit video yang saya punya, yaitu Windows Movie Maker, yang sayangnya tidak bisa membaca file berekstensi .mts. Nyari-nyari di internet, akhirnya dapat versi uji coba dari program Total Video Converter, yang bisa mengonversi file .mts ke berbagai ekstensi yang lain. File .mts akhirnya sukses dikonversi ke .avi.
Nah, dengan file .avi, saya siap mengedit video menggunakan Windows Movie Maker. Awalnya saya kira akan susah (mengingat ini adalah pertama kali). Tapi ternyata mudah banget mengedit video menggunakan Windows Movie Maker. Begitu program dijalankan dan menyimak sejenak panduan (menu) yang terpampang di layar (->baca windows), kita bisa langsung tahu bagaimana caranya menggabungkan/memotong clip, menyisipkan narasi/judul, dan tugas-tugas lain.
Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju roma, maka saya pikir, banyak pula macam-macam pengalaman pertama mengedit video. Kebetulan, saya melewati jalan seperti yang saya ceritakan di atas.
Posted by: nanik on: Juli 10, 2009
Lega. Itulah perasaan saya saat ini. Setelah melewati masa sulit sejak bulan Januari (sulit menurut saya lho …), sekarang saya menjadi lebih rileks. Bulan Januari, saat pertama kali saya merasakan kehamilan anak ketiga saya, setelah sebelumnya, pada bulan Desember, saya mendapat pemberitahuan bahwa paper saya ditolak, adalah awal dari masa sulit itu. Dalam kondisi tidak stabil, baik fisik maupun mental, yang selalu saya alami pada saat hamil muda, berbagai pertanyaan dan kebimbangan, memperparah kondisi saya.
Bagaimana saya menjelaskan kehamilan saya ke Profesor? Apakah Profesor akan mau mengerti, mengingat kejadian ini bukanlah yang pertama? Tahun 2003 saya pernah di-black-list Monbukagakusho karena hamil pada saat akan berangkat studi. Alhamdulillah, tahun 2006, setelah Roy berumur 3,5 tahun, bisa berangkat dengan beasiswa Hitachi. Dan sekarang, sebelum lulus, ehhh … kok hamil lagi. Apakah Profesor mau memahami?
Kebimbangan berikutnya, apakah saya akan bisa menyelesaikan studi saya? Apalagi waktu itu, baru tahu bahwa paper saya ditolak. PD rasanya sudah terbang entah kemana. Belum lagi rasa mual yang menyerang hampir sepanjang hari. Bisakah saya belajar dalam kondisi seperti ini?
Saya tidak mau menyerah. Tidak mau kalah. Saya tidak mau mengecewakan suami (yang rela cuti diluar tanggungan negara untuk menemani saya belajar di di sini), anak2, orang tua, Profesor, Jurusan, Hitachi, pokoknya semua pihak yang berkepentingan dengan studi saya. Akhirnya, bulan Januari, Pebruari, Maret, April, menjadi bulan perjuangan (ceileee, seperti perang saja …), yang lucu untuk dikenang. Pagi-pagi berangkat ke lab dengan membawa berbagai macam amunisi pereda mual (cemilan2 beli di seven eleven). Begitu sampai di lab, duduk, nyalain komputer, nggak sampai setengah jam, sudah nggak betah, dan boyongan pindah ke perpustakaan. Sampai di perpustakaan, karena kecapekan jalan, biasanya jadi ngantuk, liyer-liyer atau duduk bengong. Tapi kalau pas nggak terlalu capek, alhamdulillah, sedikit-sedikit bisa nyicil nulis program. Kalau pas programnya error, rasa mual terasa semakin menjadi-jadi, dan seharian tidak bergairah untuk mengerjakan apapun juga. Bener-bener masa sulit. Sampai saya bisa ngerasain yang namanya “hidup segan mati tak mau” (hehehe, segitu parahnya …).
Akhir April, program yang saya tulis sedikit demi sedikit, mulai menampakkan bentuknya. Pas seminar, saat saya mempresentasikan hasil riset saya, Profesor terlihat senang. Setelah seminar, beliau meminta untuk menuliskan hasil riset tersebut dalam sebuah paper. Dua minggu kemudian, jadilah paper saya. Berbekal paper tersebut, dengan perasaan dag dig dug, saya memberitahu Profesor tentang kehamilan saya. Wes, apapun konsekuensinya, saya harus cerita. Alhamdulillah, ternyata Profesor memahami. Beliau malah menanyakan tanggal persalinan, supaya bisa menyiapkan istrinya untuk membantu (nggak tahu, bantu apa ya?) pada tanggal tersebut. Beliau juga memberitahu kapan saya harus men-submit disertasi, kapan ujian, dan juga menyarankan untuk men-split paper yang sudah saya tulis menjadi dua, dan men-submit ke 2 jurnal yang berbeda. Setelah itu, saya menjadi semakin bersemangat. Apalagi, rasa mual sudah mulai hilang, digantikan dengan rasa berat, karena perut yang mulai membesar (hehehe …). Dan kini, meski belum benar-benar dalam posisi “aman”, saya lebih lega, karena sudah punya 2 paper konferensi dan 1 paper jurnal, dan sedang menunggu pengumuman dari beberapa paper jurnal yang sudah saya submit, yang Insya Allah bisa memenuhi syarat lulus di lab saya. Dan yang juga penting, kalau sedang berjalan di sepanjang lorong lab sambil membawa genderang
, saya sudah nggak rikuh. Genderangnya ini sudah diketahui sama Prof lho ….
Nanik, apapun yang terjadi, tetaplah berdoa dan berusaha.
Mudah2an sharing pengalaman ini bermanfaat ….
Posted by: nanik on: Juli 10, 2009
Hari Rabu kemarin, setelah men-submit satu paper ke jurnal, saya mengingat-ingat “hutang pekerjaan” yang belum terselesaikan. Ketemu 2. Yang pertama, me-review 4 paper untuk International Conference di Jurusan. Yang kedua, meng-upload video Hani pas main piano di Fuji Grand.
Untuk urusan conference di Jurusan, awalnya cuma diminta untuk mereview 2 paper. Dan itu sudah saya selesaikan awal Juni. Tapi, setelah itu dikirimi lagi 4 paper, yang waktu pengerjaannya bersamaan dengan waktu penulisan paper saya sendiri. Jadi, saya nggak sempat menyentuh 4 paper tersebut sd saya menyelesaikan paper saya. Akhirnya, molooor …. Baru hari Kamis kemarin, hasil review saya kirim ke teman-teman di Jurusan. Mudah-mudahan belum kadaluwarsa.
Kalau upload video, ini adalah janji saya ke bu Iyan, yang bela-belain datang bareng mbak Kamel and cs (Fida chan, Lia chan, Maira chan) ke Fuji Grand untuk melihat penampilan Hani. Tapi sayang seribu sayang, datangnya telat. Mereka tiba di tempat pertunjukan sesaat setelah sesi 1 (groupnya Hani) selesai tampil. Bu Iyan, ini videonya. Selamat menikmati
[Waduh, saya cari2 kok videonya belum ketemu ....]
[Hehehe ..., ternyata kalau mau upload video di wordpress harus upgrade video/space dulu. Sooo, upload videonya saya titipkan di link berikut. Gomen .... Saya nyupliknya juga cuman se-upil
]
http://ludihariyanto.multiply.com/video/item/12/20090607HaniMainPianoFujiGrand.wmv
Lagu yang dimainkan berjudul Gurasu no Kutsu atau sepatu kaca, yang diadopsi dari cerita Cinderela. Meski nggak bagus-bagus amat, lumayan deh buat hiburan
Setelah tampil, Hani bilang,” Bu, tadi ada 3 yang salah.”
“Oh ya? Nggak pa-pa. Yang penting sudah selesai ….” Meski saya rasa, kesalahannya lebih dari 3 ….
Bu Iyan …, sudah lunas ya hutangnya ….