Posted by: nanik on: Februari 1, 2009
Pagi ini, aku teringat dengan bubur sapar ala kampungku, yang sangat melimpah saat bulan Sapar tiba. Setting ingatanku terjadi saat aku dan keluargaku tinggal serumah bersama orangtuaku, pada saat Roy masih berumur 2 tahun dan Hani berumur 5 tahun. Sebelumnya, setelah aku menikah dan sebelum Roy lahir, aku tinggal di rumahku sendiri, kurang lebih 50 meter dari rumah orangtuaku. Setelah Roy lahir, orang tua memintaku untuk tinggal bersama mereka. Mungkin ibuku khawatir cucu-cucunya jadi kurang perhatian, mengingat kesibukanku dan suamiku bekerja. Aku sih sangat senang bisa tinggal bersama ibu, karena bisa lepas dari dua tugas sulit yang sering membuatku stress, yaitu manajemen masak dan manajemen beres-beres rumah.
Kami menyebut rumah orang tuaku dengan “rumah besar”, karena rumahnya memang rumah ala kampung yang besar. Rumahnya berdiri di tengah kebun yang cukup luas, yang ditanami pohon rambutan, pohon pisang, pohon mangga, pohon nangka, jagung, pohon pepaya, pohon durian, ketela pohon, bayam, cabe, kacang panjang, kunci, jahe dll. Pokoknya, untuk keperluan sayur mayur dan bumbu sehari-hari, kami tidak perlu beli di pasar. Bahkan tetangga kiri kanan seringkali ikut serta menikmati hasil kebun kami.
Saking besarnya ”rumah besar” (menurutku lho), kami kewalahan untuk membersihkannya. Ada ruang tamu yang luas; dua kamar besar, satu ditempati bapak ibu dan satu lagi kutempati bersama suami, Hani dan Roy; 4 kamar berukuran sedang, satu ditempati mbah Yut (buleknya ibu), satu lagi ditempati Sus (keponakan bapak), satu lagi ditempati Khol (pengasuh Hani dan Roy), dan satu lagi kosong; dapur dan ruang makan yang luas; mushola kecil (cukup untuk dua orang, tempat sholat favorit bapak dan ibu); mushola besar (cukup untuk 15 orang, digunakan sebagai tempat ngaji setiap Senin malam); 3 kamar mandi; gudang; garasi; ruang keluarga (tempat bapak biasanya ditonton oleh televisi, bukan bapak menonton televisi); teras super besar (yang setiap hari Senin digunakan sebagai tempat rapat anggota koperasi yang diketuai ibuku, bisa menampung sd 100 orang lebih); pelataran depan rumah yang berukuran sama dengan lapangan badminton. Beberapa hari sekali, ibu meminta tolong yu Pasi dan mbak Narti untuk bersih-bersih rumah total, mulai dari menyapu dan mengepel lantai, melap kaca, mencuci korden, menjemur kasur dan bantal, membersihkan peralatan dapur, dll, dan meminta tolong pak Yan untuk membersihkan kebun.
Waaah, kok jadi kepanjangan ya cerita tentang rumah besar (maaf, mungkin karena aku sangat sangat sangat rindu dengan suasana rumah besar jaman dulu). Kembali ke bubur sapar yaaa …. Bubur sapar itu terbuat dari tepung (entah tepung beras atau tepung ketan ya? Maaf, lupa), yang dibentuk bulat-bulat (sedikit lebih besar dari kelereng), terus dimasukkan ke dalam rebusan air gula merah. Setelah matang, akan berbentuk bubur berwarna coklat tua yang manis dengan bulatan-bulatan kenyal berwarna coklat muda yang gurih. Disajikan dengan santan kental. Slurrrp …, enak tenan.
Nah, di bulan Sapar, hampir setiap hari kami mendapat hantaran bubur sapar secara bergiliran, dari saudara dan tetangga satu kampung. Dari sekian banyak hantaran, tidak ada bubur sapar yang rasanya persis sama, pasti ada beda-beda tipis di rasa kenyal, gurih dan manisnya. Seisi rumah menyukai (ada yang agak suka, suka aja, suka banget) bubur sapar. Bapak dan aku termasuk yang “suka banget”. Kami biasanya menyabet duluan bubur sapar yang baru dihantar, karena masih fresh dan hangat.
Pada suatu hari Minggu, kami berencana membuat bubur Sapar, untuk hantaran dan untuk konsumsi sendiri. Jadi membuatnya dalam jumlah buuuanyak. Ibu, sebagai manager rumah, mempercayakan pembuatan bubur Sapar kepada mbah Yut, sebagai ketua, dan yu Pasi sebagai wakil ketua. Yang lainnya, sebagai pelaksana, dan bapak sebagai pemerhati. Ibu sendiri, sejak pagi sudah berangkat ngantor (hehehe … jualan di pasar), pokoknya tahu beres sepulang dari pasar. Beres berarti semua saudara dan tetangga yang ada dalam list sudah menerima hantaran bubur Sapar dan pas Ibu pulang, Ibu bisa menikmati bubur Sapar yang lezat.
Sejak pagi, mbah Yut yang terkenal super ceriwis, berulang kali meneriakkan instruksi, ”Siiii … (memanggil nama yu Pasi), nek mari kuwi ndang diselepno berase (setelah menyelesaikan itu, segeralah pergi menyelep/menumbuk beras), mengko nganggo panci sing gedhe iki ae (nanti pakai panci besar ini saja), tampahe nggawe telu (pakai tiga tampah), Sus karo Khol sing ngeterke (Sus dan Khol yang menghantarkan), Sholeh ndang dikandhani, kongkon ngeterke Sus karo Khol nang sing adhoh-adhoh (cepat beritahu Sholeh untuk mengantar Sus dan Khol menghantar ke tempat-tempat yang jauh), dll ….”
Yu Pasi yang saat itu sedang sibuk mengerjakan sesuatu dan berada didekatku, berbisik,” Wis ero … (sudah tahu).” Aku menyahut,” Aku yo wis ero (aku juga sudah tahu).” Dan kami berdua cekikikan.
Karena tidak mendengar respon dari yu Pasi, mbah Yut kembali berteriak,” Siiii …, kowe ki krungu po ora tho (Pasi, kamu ini dengar atau tidak?).”
“Enggeh mbah … krungu (iya mbah … dengar),” Yu Pasi cepat-cepat lari ke mbah Yut, mengambil bungkusan beras yang sudah disiapkan mbah Yut dan berangkat ke tempat selepan (tempat menumbuk beras).
Sepulang dari tempat selepan, yu Pasi membuat adonan tepung, plus air, air kapur, garam. Saat adonan tepung siap untuk dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil, pasukan pelaksana segera menyerbu. Aku, Sus, Khol, Hani, Roy plus teman-teman Hani dan Roy (Tita, Deni, Saiful) yang hampir tiap hari bermain di rumah, ditambah dengan gerombolan adikku Nur dan dua anaknya (Nisa dan Ina) yang tiap Minggu selalu stand-by di rumah besar. Mbah Yut seperti biasa mengeluarkan titah ini, itu, memarahi si A, si B,” Tit … lek ngunder-ngunder ojo gedhe-gedhe tho (Tita, bulatannya jangan besar-besar), Deni karo Saiful ki wes ngrusuhi ae (Deni dan Saiful mengganggu saja), dll.” Anak-anak benar-benar having fun dengan kegiatan “ngunder-ngunder” ini. Sementara bapak, sang pemerhati, hanya senyum-senyum sambil sesekali garuk-garuk kepala.
Walhasil, jadilah bubur Sapar “kocak”, karena bulatannya yang benar-benar tidak seragam. Variance-nya sangat besar. Mulai dari yang kecil mungil buatan Ina, sampai dengan yang segedhe bola bekel buatan Hani. Begitu bubur masak, semua pasukan pelaksana kecil makan bersama di teras besar. “Uuuenak …,” kata mereka. Bener lho, rasanya sangat enak. Tapi mbah Yut sangat tidak puas dengan hasil ini. Sampai sore beliau terus menggerutu gara-gara bubur Sapar yang tidak seragam.
Inilah sepenggal kerinduanku tentang bubur Sapar, tentang kebersamaan di rumah besar. Kalau aku kembali pulang, tak kan mungkin lagi kurasakan kebersamaan seperti waktu itu. Karena sekarang, mbah Yut sudah meninggal, Sus sudah menikah dan tinggal bersama suaminya, Khol sudah pulang ke rumahnya (mungkin akan segera menikah). Sama halnya dengan tak mungkin lagi kurasakan nikmatnya nyemil paket Cheeseburger dari pintu tol Mayjen Sungkono sd pintu tol Gempol, karena sekarang ruas tol Porong – Gempol sudah ditutup, tertutup lumpur Lapindo. Semuanya, sekarang hanya begitu indah dalam bayangan ….
Posted by: nanik on: Januari 31, 2009
Akhir-akhir ini, mungkin karena perubahan hormon dalam tubuhku, aku jadi sering membayangkan dan merindukan kebiasaan-kebiasaan masa lalu, terutama yang berhubungan dengan makanan. Aku sangat rindu makanan McD ala Indonesia, rujak Taqwa, urap-urap, rawon, pangsit mie ayam, bakso, tahu campur, dll. Aku rindu makan bakso pak Kumis bersama anak-anak dan keponakan di emperan ruko BNI, rindu sapaan Yu Pasi yang menawarkan kopi. Yu Pasi itu tetangga depan rumah yang setiap hari lebih dari dua kali melakukan inspeksi ke rumah. Selalu mencari tahu apakah ada sesuatu yang perlu dibereskan. Begitu nongol Yu Pasi sering menawarkan,”Kopi?” Biasanya sih aku selalu menjawab,”Ya …ya. Segelas aja. Nanti paruhan ya?” Meskipun akhirnya, kopi enak buatan Yu Pasi kuhabiskan sendiri.
Banyak yang kurindukan. Banyak pula yang ingin kutuliskan. Kali ini, aku tulis kerinduanku akan McD ala Indonesia, dan cara menyantapnya ala aku. Begini ceritanya ….
Saat menyusuri jalan Mayjen Sungkono, jam tanganku menunjuk ke pukul 5 sore. Perutku berbunyi,” Kukuruyuk … kukuruyuk …”, seperti suara ayam betina yang berkokok malu-malu. Baru inget, tadi siang belum makan. Lapar …. Pengen makan sesuatu aaah. Tapi yang nggak pakai menghentikan mobil, supaya waktu perjalanan nggak terpotong hanya untuk makan. Artinya, aku akan menjalankan plan McD, salah satu plan favorit saat nyetir mobil.
Menjelang pintu masuk tol Mayjen Sungkono, kubelokkan mobil ke Mc Donald. Buat aku, lokasi Mc Donald cabang Mayjen Sungkono yang berada tepat sebelum pintu masuk tol, benar-benar strategis, karena sangat memudahkanku saat kelaparan sepulang kerja. Kubeli paket Cheeseburger melalui drivethrough. Aku nggak perlu turun dari mobil. Cukup melewatkan mobil ke lintasan drivethrough, memesan makanan di loket pertama, terus mengambil makanan dan membayar di loket kedua. Praktis …. Waktu itu, paket Cheeseburger terdiri dari setangkup roti burger dengan isi daging, keju, selada, tomat, timun kecut dan mayonese; sekotak kentang goreng; segelas kertas coca-cola (yang bisa dituker sprite, lemon tea atau yang lain); lengkap dengan sedotan, saus tomat sachet, sambal tomat sachet dan tissue. Harganya kurang lebih 20 ribu rupiah. Itu sekitar 3 tahun lalu. Mungkin sekarang sudah beda.
Sebelum keluar dari wilayah McD, aku berhenti sejenak untuk menata paket Cheeseburger di kursi kosong sebelahku, supaya aku bisa menikmatinya sambil nyetir tanpa kesulitan. Pertama, kusruput minuman. Segarrr …! Surabaya meski sudah sesore ini tapi masih tetep aja panas. Terus, kuletakkan gelas kertas dengan posisi yang aman supaya tidak tumpah, kubuka bungkus burger dan kuletakkan berjajar dengan kentang goreng dan tissue. Semua makanan kuletakkan dalam jangkauan tanganku. Aku tak menyentuh saus dalam sachet, karena aku lebih menyukai rasa cheese burger yang original tanpa saus-sausan. Untuk kentang goreng, sebenarnya lebih enak kalau makannya di-cocol dulu dengan sambel tomat. Tapi karena “mencocol “ susah dilakukan sambil nyetir, jadi kentang goreng pun dimakan polosan. Setelah semua tertata, yooosh …, aku siap melanjutkan perjalanan pulang ke rumah yang masih butuh waktu minimal sejam lagi.
Setelah melewati pintu masuk tol Mayjen Sungkono, dimulailah prosesi makan sambil nyetir, yang waktu itu sepertinya biasa-biasa saja, tapi sekarang menjadi sesuatu yang nikmat sekali dalam bayangan. Sambil mendengarkan radio Suara Surabaya, megang setir dengan tangan kanan, kadang-kadang ngopling dengan tangan kiri, satu-satu kentang goreng masuk ke mulutku, diselingi dengan seteguk dua teguk lemon tea dan segigit dua gigit burger. Gurih …. Segar …. Enak …. Asyik …. Menjelang pintu keluar tol Gempol, paket Cheeseburger-ku sudah ludes. Kenyang dan siap untuk menempuh rute Gempol – Pandaan – rumah. Inilah kenangan nyemilku antara pintul tol Mayjen Sungkono sd pintu tol Gempol. (Btw, kok nggak ada yang bikin lagu kenangan nyemil di antara dua kota yach, nyaingin lagu kenangan cinta antara Anyer dan Jakarta ….)
Posted by: nanik on: Januari 14, 2009
(Artikel ini disadur dari majalah Hidayatullah)
Sendirian mengantarkan delapan anaknya menjadi orang berilmu dan shalih. Salah seorang di antaranya bahkan menjemput syahid.
Hari itu, 30 tahun lalu, duka menyelimuti Musa’adah. Muhammad Basri, suaminya tercinta dipanggil Allah. Ia ditinggali enam orang anak dan bayi yang masih dalam kandungan (belakangan diketahui anak di dalam kandungan itu kembar dua). Status janda saja sudah menjadi beban tersendiri, apalagi ditambahi delapan anak yang masih kecil-kecil, jelas merupakan beban yang amat berat. Namun Sa’adah, demikian ia biasa dipanggil, tak ingin lama-lama larut dalam kesedihan. Bagaimanapun, kehidupan harus berjalan terus.
Semasa hidupnya, Basri membuka toko kelontong di Kartasura Solo, Jawa Tengah, untuk menafkahi keluarganya. Namun, setelah ia meninggal, toko itu mengalami kemunduran hingga bangkrut. Sa’adah pun memboyong anak-anaknya ke Tempursari Solo, tanah kelahirannya.
Di Tempursari, segala usaha dilakukan oleh perempuan yang lahir 66 tahun yang lalu ini. Mulai dari buka warung kecil-kecilan hingga tukang kredit pakaian. Selama menikah dengan Basri, Sa’adah hanya fokus dalam mengasuh dan merawat anak-anaknya. Kini, ia harus memeras keringat dan membantin tulang, demi buah hatinya.
Tiap malam ia mengadu kepada Allah Ta’ala agar diberi kemudahan dan ketabahan dalam menjalani hidupnya. Ia bertekad mengantarkan anak-anaknya meraih pendidikan setinggi-tingginya.
Dalam menjalankan usaha kreditan baju, Sa’adah mengaku hanya bermodal kejujuran dan amanah. “Kalau kita tidak jujur, rezeki itu tidak akan berkah. Saya hanya mencari keberkahan walaupun sedikit,” katanya.
Sa’adah bersyukur, ketika ditinggal suaminya, ia tidak memiliki hutang sepeser pun. Ia juga berusaha agar tidak berhutang, betapapun sulitnya kehidupan yang ia hadapi. “Saya paling takut kalau punya hutang,” prinsipnya.
Keteguhan hati dan kerja keras yang diiringi doa pada Sang Kuasa, akhirnya membuahkan hasil. Sa’adah mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi orang-orang berilmu. Dua di antaranya bahkan meraih gelar doktor, Dr. Mu’inudinillah Basri, MA (putra kedua) dan Dr. Setiawan Budi Utomo, MM (putra ketiga). “Alhamdulillah, semua ini berkat rahmat Allah. Kalau tidak, mana mungkin bisa. Apalagi kalau dihitung secara matematis,” ujarnya.
Rata-rata anak-anak Sa’adah mendapatkan beasiswa ketika menempuh studi S1. Mu’in dan Budi bahkan mendapat beasiswa hingga ke jenjang S3. Mu’in mendapat beasiswa sejak di LIPIA Jakarta. Berbekal prestasinya yang mengagumkan, selalu peringkat pertama, ia ditawari melanjutkan studi S2 di Saudi Arabia. Tak hanya S2, di negeri petro dolar itu pula Mu’in mendapatkan gelar doktornya. Demikian pula dengan Budi, semua jenjang pendidikannya, mulai dari S1 hingga S3 ditempuh dengan beasiswa.
Sa’adah lebih mementingkan pendidikan agama bagi anak-anaknya ketimbang pendidikan umum. Anak-anaknya ia sekolahkan di madrasah dan pondok pesantren. “Sejak dulu saya bercita-cita punya anak-anak yang jadi ulama,” katanya.
Ia pun mengarahkan mereka supaya belajar secara serius dan sungguh-sungguh agar mendapatkan beasiswa. Sa’adah sadar dengan kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Oleh karena itu, ia meminta anak-anaknya untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar.
Alasan lain yang membuatnya lebih memilih pendidikan pesantren ketimbang pendidikan umum adalah, karena ia ingin melihat anak-anaknya bisa menghafal al-Qur’an. Setiap malam, ketika shalat Tahajjud, Sa’adah selalu berdoa agar anak-anaknya bisa hafidz (penghapal al-Qur’an). Do’a Sa’adah dikabulkan Allah, empat anaknya berhasil hapal al-Qur’an. Mereka adalah Mu’inudinillah Basri, Setiawan Budi Utomo, dan si kembar Ahmad Syafiuddin dan Ahmad Nurdin (almarhum). “Alhamdulillah, saya bersyukur karena doa saya dikabulkan”, ujar Sa’adah terharu.
Menurut nenek tujuh belas cucu ini, hal terpenting yang ia tekankan pada anak-anaknya adalah tentang keseriusan dan kedisiplinan serta tidak melupakan shalat lima waktu. Hal inilah yang dapat mengundang rahmat dan berkah Allah Ta’ala.
Satu hal yang dipesankan Sa’adah. Jagalah lidah agar tidak mengeluarkan omongan yang tidak baik. Karena, kata Sa’adah, ucapan adalah do’a. Ia sering miris melihat orang tua mengatai anak-anaknya dengan kata-kata yang buruk ketika anak-anaknya berbuat nakal. ”Saya sampai istighfar berkali-kali jika melihat hal yang demikian. Berhati-hatilah kalau berkata-kata yang tidak baik pada anak-anak!” pesannya.
Sa’adah juga selalu mendidik anak-anaknya agar peduli dan berempati dengan penderitaan orang lain. Menurutnya, setiap memperoleh rezeki, kita harus sadar bahwa di situ ada hak orang lain. “Jangan eman (sayang) dalam membantu orang!” nasehat yang selalu ia sampaikan.
Posted by: nanik on: Desember 4, 2008
Now, here I am, standing with uncertain feeling and half of confidence. I must finish this puzzle “Pattern Drawing”, the idea of research which I am almost sure (but I can not be sure) that no one ever worked in it.
Here I am, bringing a piece of unclear map and old-tired brain, ready (?) to fight in battle, to build correct solution of the puzzle. The map is all I have as guidance for exploring big forest in front of me, where pieces of puzzle’s answer be located. I need to pick pieces of correct answer and arrange all of them together. On the map, I can see clearly only three pieces “tensor product b-spline surface”, “wavelet based multiresolution representation of tensor product b-spline surface”, and “subdivision surface”, but other pieces are dark; the map doesn’t tell me where they are located. I don’t know whether the 3 pieces of answer are the correct answers of my puzzle or not; and I must explore the dark forest to find other pieces. The puzzle is big and difficult. Can I solve it?
Here I am, smiling and almost crying. No one help me. No one give me guidance “what pieces I should take”, “which way in the forest I should take to pick the correct pieces”, “how I should arrange the pieces”. Why do they give me unclear map? Why do they not give me a candle that I can bring to explore the dark forest? It seems that my study is “my own” problem. I even don’t know who “they” are.
Here I am, with no other choice except “just do it”. Uuuhhh …. Then,“Bismillah”. I’ll explore the forest.
*My puzzle is describing a method for drawing patterns on multiresolution surface along a set of user-defined curves, which allows easily features creation on surface just like drawing a sketch in 2D using a palette of patterns.
Posted by: nanik on: September 30, 2008
Jam 3:30 sore.
“Pingpong ….”
Saya terhenyak, menghentikan ketikan. Belum sempat berpikir lebih jauh, terdengar lagi suara bel dipencet tiga kali dengan tergesa-gesa. ”Pingpong …, pingpong …, pingpong ….”
Hani! Pikiran saya reflek mengarah ke anak perempuan saya. Jam segini adalah jam kepulangan Hani dari sekolah. “Roy! Mbak Hani datang. Tolong pintunya dibuka …,” saya berteriak ke Roy, yang posisi bermainnya lebih dekat dengan pintu depan dibandingkan sy yang sedang mojok di sudut kamar.
Roy tidak bergerak.
”Pingpong …, pingpong …, pingpong …,” suara bel berdering lagi.
Sepertinya sia-sia mengharap pertolongan Roy. Saya mulai beranjak dari depan komputer. Belum sampai setengah perjalanan ke pintu depan, Roy sudah berlari mendahului. Ini anak …. Nolongnya selalu nanggung.
Pintu baru terbuka seperempat, ketika ”bruk … gedebruk … gedebruk”, Hani yang agak endhut menerobos masuk, melepas sepatu, meletakkan randoseru (tas sekolah), teremos dan tas tempat lain2x (spt obento, suling, kaos dan celana olah raga), sambil menggerutu,” Osoi yo (lambat sekali sih buka pintunya)”. Hani bahkan tidak menghiraukan sambutan ”Okaerinasai” dari adiknya dan ”Wa’alaikumsalam” dari saya. Setelah aksi heboh gedebruk-gedebruk, Hani berteriak, ”Kebelet pipis!!!” sambil berlari ke kamar kecil.
Waduh …, belum berubah juga kebiasaan nih anak. ”Tadi, di sekolah nggak ke toire ya?” tanya sy penuh curiga.
Wajah Hani yang penuh kelegaan (seolah sudah melepaskan beban berat) menyembul dari pintu toire, ”Di sekolah tadi sudah ke toire. Tapi karena hari ini olah raga, minumnya banyak, jadi kebelet lagi …”
”Ibu, hari ini PR-nya buuuuanyak. Boleh ya ke rumah Shimada sampai jam setengah enam?” tanya Hani disela-sela kesibukannya ganti baju.
Hampir setiap hari, sepulang sekolah, Hani mengerjakan PR bersama Shimada, teman sekelas yang rumahnya berjarak sekitar 100 m dari rumah kami. Biasanya sih ijinnya cuma 1 jam, dari jam 4 sore sd jam 5, tapi seringkali molor sd jam 5 lewat seperempat atau bahkan lebih. Kalau ditegur pas pulang, jawaban Hani biasanya ”tadi nggak bawa jam, jadi nggak tahu jam berapa” atau ”tadi ngerjain sampai semua PR selesai” atau ”tadi Shimada nunjukin lagu baru”. Ah ya, Shimada san pintar main piano. Menurut cerita Hani, kalau pas boring ngerjain PR, Shimada suka nunjukin kemahirannya main piano. “Hebat lho bu! Main pianonya pakai 10 jari,” promosi Hani tentang Shimada.
”Sampai jam setengah 6 ya?” saya menimbang2x, memikirkan kemoloran yang mungkin terjadi. “Beneran jam setengah 6 …. Nggak pakai lebih.”
“Iya. Ini sudah bawa jam tangan, biar bisa lihat jam.”
“Yo wis. PR hari ini apa sih? Kanji dan sansu (aritmetika)?”
”Sansu nggak ada. Kanji ada, tapi sedikit. Yang buuuanyak, PR Syakai. Sama bu Guru disuruh nulis ”taisetsu na kotoba” yang ada di buku Syakai dari halaman 25 sd 28, terus dari halaman 42 sampai halaman 55.”
Taisetsu na kotoba? Ngerti nggak ya anak ini tentang apa yang harus dikerjakan di PR nya? Jadi penasaran. Nge-tes ah …. Saya buka2x buku Syakai Hani. Pas di halaman 25, saya tunjuk judulnya, “Ini kan yang ditulis? Ini kan taisetsu na kotoba?”
“Bukan,” kata Hani. “Taisetsu na kotoba itu tulisan yang penting2x.”
“Oooh. Jadi ditulis semua yaaa. Kan semuanya penting,” saya berpura2x o’on.
“Ya enggak. Yang ditulis tuh yang ini, terus ini, pokoknya yang penting2x saja,” Hani bersemangat menjelaskan.
Saya tarik napas lega. Berarti Hani tahu apa yang harus dikerjakan. Meski penting menurut Hani belum tentu penting menurut tuntutan pelajarannya, setidaknya kalau Hani tahu (menurut definisinya sendiri), dia akan enjoy menyelesaikan pekerjaannya. Terus terang, so far, saya tidak menuntut terlalu banyak dari Hani. Asalkan Hani enjoy, bisa menyelesaikan sendiri semua PRnya, it’s ok. Masalah hasil (kesempurnaan PR), belakangan ….
Ah, kembali ke Syakai. Kalau melihat di kamus, Syakai berarti masyarakat. Mungkin, Syakai adalah pelajaran tentang Kemasyarakatan. Isi dari buku paket Syakai adalah penjelasan tentang segala hal (spt jumlah penduduk, lokasi di peta, hasil bumi/laut) dari kecamatan2x yang ada di kabupaten Higashi Hiroshima, cerita tentang rumah sakit, supermaket, pabrik pembuatan minuman, dll. Pernah pada suatu hari Hani cerita tentang jalan2x ke supermaket Fresta beserta semua teman sekelasnya. Terus, PR hari itu adalah membuat koran yang berisi liputan, baik tulisan dan gambar, tentang kegiatan di supermarket. Kalau di Indonesia, pelajaran ini sama dengan apa ya?
Jam 4 sore.
Sambil membawa tas merah muda berisi buku2x PR, Hani pamitan,”Berangkat yaaa. Assalamu’alaikum. Itte kimasu ….”
”Wa’alaikumsalam. Itterassyai. Jam setengah 6 yaa … Nggak pakai lebih,” balas saya.
”Hai. Wakarimashita,” teriak Hani sambil berlari menuruni tangga. Aduh. Mudah2xan suara gedebuk2xnya tidak mengganggu tetangga bawah rumah ….
Jam 5:30 sore lebih sedikit.
”Pingpong …”
Ternyata tepat waktu juga, pikir saya sambil membukakan pintu.
Hani nongol dengan wajah sibuk,”PRnya belum selesai. Masih banyak.” Hani langsung menuju meja belajarnya, melanjutkan mengerjakan PR.
Jam 6 sore.
Hani istirahat sejenak. Sesibuk apa pun, acara nonton TV di NHK Education dari jam 6 sore sd jam 7 tidak terlewat. Acaranya memang menarik siiih. Saya saja, yang orang dewasa, suka. Sambil nonton “Ojare maru”, “Ramtaro” dan “Tensai Terebi kun MAX”, Hani menikmati makan malam kesukaannya, Indomie kuah pakai telor, plus nasi sedikit, dan teh hangat.
Jam 7 malam.
Hani mengerjakan PR lagi.
“Masih banyak PRnya?” tanya saya.
“Masih.”
“Kalau nggak selesai hari ini, bagaimana?”
”Kalau nggak selesai, bu Guru bisa marah.”
”Biar deh bu Guru marah. Paling2x, teman2x yang lain juga nggak selesai,” kata saya.
Hani tak menghiraukan. Sibuk lagi dengan PRnya. Saya buatkan teh hangat segelas lagi, saya bantu merautkan pensil, saya pijat tangannya tiga kali ketika Hani mengeluh tangannya linu. Iya laaah. Menulis sebanyak itu. Akhirnya, setelah mendapat 6 halaman tulisan lebih sedikit, Hani berkata, ”Owarimashita (selesai)”.
Hhhhh, saya ikutan menarik napas lega. Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Saat itu sekitar jam 9:30 malam.
Jam 10:00 malam kurang sedikit.
Hani siap tidur. Meski berkata, ”Aduuuh, nggak bisa tidur nih”, namun tak sampai 3 menit berikutnya, Hani sudah tak menyahut ketika saya panggil.
Sibuk sekali Hani hari ini. Mudah2xan besok normal kembali, artinya, PR Hani seperti hari biasa, yang bisa sejam selesai. Tidak seperti hari ini, yang butuh 4 jam lebih untuk bisa selesai. Amin3x.
Rabu, 24 September 2008