Hi hi hi !

Satu rindu

Posted by: nanik on: November 10, 2009

hujan, kau ingatkan aku
tentang satu rindu di masa yang lalu
saat mimpi masih indah bersamamu

terbayang satu wajah penuh cinta penuh kasih
terbayang satu wajah penuh dengan kehangatan

kau Ibu, oh ibu

Allah ijinkanlah aku bahagiakan dia
meski dia jauh
biarkanlah aku berarti untuk dirinya
oh Ibu, oh Ibu

By Opick

Pengalaman pertama mengedit video

Posted by: nanik on: Juli 12, 2009

Saya menggunakan Canon IVIS  HF20 untuk merekam kegiatan anak2. Dengan perangkat tersebut, file video yang dihasilkan, disimpan dengan ektensi “titik mts” (.mts). Begitu akan mengedit file tersebut, baru tahu kalau tak satu pun program media player yang sudah ter-install di komputer saya (windows media player dan media player classic) , dapat membaca file mts. Terpaksa, saya install Image Mixer, yang include di CD pada saat membeli kamera video Canon. Jang … jang … jang, akhirnya saya pun bisa menonton video anak2 di komputer menggunakan Image Mixer Player.

Saya pikir, Image Mixer juga punya fasilitas edit video, seperti memotong clip, menyisipkan judul, menggabungkan clip. Ternyata tidak. Jadi, saya harus menggunakan satu-satunya program untuk mengedit video yang saya punya, yaitu Windows Movie Maker, yang  sayangnya tidak bisa membaca file berekstensi .mts. Nyari-nyari di internet, akhirnya dapat versi uji coba dari program Total Video Converter, yang bisa mengonversi file .mts ke berbagai ekstensi yang lain. File .mts akhirnya sukses dikonversi ke .avi.

Nah, dengan file .avi, saya siap mengedit video menggunakan Windows Movie Maker. Awalnya saya kira akan susah (mengingat ini adalah pertama kali). Tapi ternyata mudah banget mengedit video menggunakan Windows Movie Maker. Begitu program dijalankan dan menyimak sejenak panduan (menu)  yang terpampang di layar (->baca windows), kita bisa langsung tahu bagaimana caranya menggabungkan/memotong clip, menyisipkan narasi/judul, dan tugas-tugas lain.

Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju roma, maka saya pikir, banyak pula macam-macam pengalaman pertama mengedit video. Kebetulan, saya melewati jalan seperti yang saya ceritakan di atas.

Sekarang, lebih lega ….

Posted by: nanik on: Juli 10, 2009

Lega. Itulah perasaan saya saat ini. Setelah melewati masa sulit sejak bulan Januari (sulit menurut saya lho …), sekarang saya menjadi lebih rileks. Bulan Januari, saat pertama kali saya merasakan kehamilan anak ketiga saya, setelah sebelumnya, pada bulan Desember, saya mendapat pemberitahuan bahwa paper saya ditolak, adalah awal dari masa sulit itu. Dalam kondisi tidak stabil, baik fisik maupun mental, yang selalu saya alami pada saat hamil muda, berbagai pertanyaan dan kebimbangan, memperparah kondisi saya.

Bagaimana saya menjelaskan kehamilan saya ke Profesor? Apakah Profesor akan mau mengerti, mengingat kejadian ini bukanlah yang pertama? Tahun 2003 saya pernah di-black-list Monbukagakusho karena hamil pada saat akan berangkat studi. Alhamdulillah, tahun 2006, setelah Roy berumur 3,5 tahun, bisa berangkat dengan beasiswa Hitachi. Dan sekarang, sebelum lulus, ehhh … kok hamil lagi. Apakah Profesor mau memahami?

Kebimbangan berikutnya, apakah saya akan bisa menyelesaikan studi saya? Apalagi waktu itu, baru tahu bahwa paper saya ditolak. PD rasanya sudah terbang entah kemana. Belum lagi rasa mual yang menyerang hampir sepanjang hari. Bisakah saya belajar dalam kondisi seperti ini?

Saya tidak mau menyerah. Tidak mau kalah. Saya tidak mau mengecewakan suami (yang rela cuti diluar tanggungan negara untuk menemani saya belajar di di sini), anak2, orang tua, Profesor, Jurusan, Hitachi, pokoknya semua pihak yang berkepentingan dengan studi saya. Akhirnya, bulan Januari, Pebruari, Maret, April, menjadi bulan perjuangan (ceileee, seperti perang saja …), yang lucu untuk dikenang. Pagi-pagi berangkat ke lab dengan membawa berbagai macam amunisi pereda mual (cemilan2 beli di seven eleven). Begitu sampai di lab, duduk, nyalain komputer, nggak sampai setengah jam, sudah nggak betah, dan boyongan pindah ke perpustakaan. Sampai di perpustakaan, karena kecapekan jalan, biasanya jadi ngantuk, liyer-liyer atau duduk bengong. Tapi kalau pas nggak terlalu capek, alhamdulillah, sedikit-sedikit bisa nyicil nulis program. Kalau pas programnya error, rasa mual terasa semakin menjadi-jadi, dan seharian tidak bergairah untuk mengerjakan apapun juga. Bener-bener masa sulit. Sampai saya bisa ngerasain yang namanya “hidup segan mati tak mau” (hehehe, segitu parahnya …).

Akhir April, program yang saya tulis sedikit demi sedikit, mulai menampakkan bentuknya. Pas seminar, saat saya mempresentasikan hasil riset saya, Profesor terlihat senang. Setelah seminar, beliau meminta untuk menuliskan hasil riset tersebut dalam sebuah paper. Dua minggu kemudian, jadilah paper saya. Berbekal paper tersebut, dengan perasaan dag dig dug, saya memberitahu Profesor tentang kehamilan saya. Wes, apapun konsekuensinya, saya harus cerita. Alhamdulillah, ternyata Profesor memahami. Beliau malah menanyakan tanggal persalinan, supaya bisa menyiapkan istrinya untuk membantu (nggak tahu, bantu apa ya?) pada tanggal tersebut. Beliau juga memberitahu kapan saya harus men-submit disertasi, kapan ujian, dan juga menyarankan untuk men-split paper yang sudah saya tulis menjadi dua, dan men-submit ke 2 jurnal yang berbeda. Setelah itu, saya menjadi semakin bersemangat. Apalagi, rasa mual sudah mulai hilang, digantikan dengan rasa berat, karena perut yang mulai membesar (hehehe …). Dan kini, meski belum benar-benar dalam posisi “aman”, saya lebih lega, karena sudah punya 2 paper konferensi dan 1 paper jurnal, dan sedang menunggu pengumuman dari beberapa paper jurnal yang sudah saya submit, yang Insya Allah bisa memenuhi syarat lulus di lab saya. Dan yang juga penting, kalau sedang berjalan di sepanjang lorong lab sambil membawa genderang :) , saya sudah nggak rikuh. Genderangnya ini sudah diketahui sama Prof lho ….

Nanik, apapun yang terjadi, tetaplah berdoa dan berusaha.

Mudah2an sharing pengalaman ini bermanfaat ….

Hani main piano

Posted by: nanik on: Juli 10, 2009

Hari Rabu kemarin, setelah men-submit satu paper ke jurnal, saya mengingat-ingat “hutang pekerjaan” yang belum terselesaikan. Ketemu 2. Yang pertama, me-review 4 paper untuk International Conference di Jurusan. Yang kedua, meng-upload video Hani pas main piano di Fuji Grand.

Untuk urusan conference di Jurusan, awalnya cuma diminta untuk mereview 2 paper. Dan itu sudah saya selesaikan awal Juni. Tapi, setelah itu dikirimi lagi 4 paper, yang waktu pengerjaannya bersamaan dengan waktu penulisan paper saya sendiri. Jadi, saya nggak sempat menyentuh 4 paper tersebut sd saya menyelesaikan paper saya. Akhirnya, molooor …. Baru hari Kamis kemarin, hasil review saya kirim ke teman-teman di Jurusan. Mudah-mudahan belum kadaluwarsa.

Kalau upload video, ini adalah janji saya ke bu Iyan, yang bela-belain datang bareng mbak Kamel and cs (Fida chan, Lia chan, Maira chan) ke Fuji Grand untuk melihat penampilan Hani. Tapi sayang seribu sayang, datangnya telat. Mereka tiba di tempat pertunjukan sesaat setelah sesi 1 (groupnya Hani) selesai tampil. Bu Iyan, ini videonya. Selamat menikmati :)

[Waduh, saya cari2 kok videonya belum ketemu ....]

[Hehehe ..., ternyata kalau mau upload video di wordpress harus upgrade video/space dulu. Sooo, upload videonya saya titipkan di link berikut. Gomen .... Saya nyupliknya juga cuman se-upil :) ]

http://ludihariyanto.multiply.com/video/item/12/20090607HaniMainPianoFujiGrand.wmv

Lagu yang dimainkan berjudul Gurasu no Kutsu atau sepatu kaca, yang diadopsi dari cerita Cinderela. Meski nggak bagus-bagus amat, lumayan deh buat hiburan :)

Setelah tampil, Hani bilang,” Bu, tadi ada 3 yang salah.”
“Oh ya? Nggak pa-pa. Yang penting sudah selesai ….” Meski saya rasa, kesalahannya lebih dari 3 ….

Bu Iyan …, sudah lunas ya hutangnya …. :)

Bubur Sapar ala kampungku

Posted by: nanik on: Februari 1, 2009

Pagi ini, aku teringat dengan bubur sapar ala kampungku, yang sangat melimpah saat bulan Sapar tiba. Setting ingatanku terjadi saat aku dan keluargaku tinggal serumah bersama orangtuaku, pada saat Roy masih berumur 2 tahun dan Hani berumur 5 tahun. Sebelumnya, setelah aku menikah dan sebelum Roy lahir, aku tinggal di rumahku sendiri, kurang lebih 50 meter dari rumah orangtuaku. Setelah Roy lahir, orang tua memintaku untuk tinggal bersama mereka. Mungkin ibuku khawatir cucu-cucunya jadi kurang perhatian, mengingat kesibukanku dan suamiku bekerja. Aku sih sangat senang bisa tinggal bersama ibu, karena bisa lepas dari dua tugas sulit yang sering membuatku stress, yaitu manajemen masak dan manajemen beres-beres rumah.

Kami menyebut rumah orang tuaku dengan “rumah besar”, karena rumahnya memang rumah ala kampung yang besar. Rumahnya berdiri di tengah kebun yang cukup luas, yang ditanami pohon rambutan, pohon pisang, pohon mangga, pohon nangka, jagung, pohon pepaya, pohon durian, ketela pohon, bayam, cabe, kacang panjang, kunci, jahe dll. Pokoknya, untuk keperluan sayur mayur dan bumbu sehari-hari, kami tidak perlu beli di pasar. Bahkan tetangga kiri kanan seringkali ikut serta menikmati hasil kebun kami.

Saking besarnya ”rumah besar” (menurutku lho), kami kewalahan untuk membersihkannya. Ada ruang tamu yang luas; dua kamar besar, satu ditempati bapak ibu dan satu lagi kutempati bersama suami, Hani dan Roy; 4 kamar berukuran sedang, satu ditempati mbah Yut (buleknya ibu), satu lagi ditempati Sus (keponakan bapak), satu lagi ditempati Khol (pengasuh Hani dan Roy), dan satu lagi kosong; dapur dan ruang makan yang luas; mushola kecil (cukup untuk dua orang, tempat sholat favorit bapak dan ibu); mushola besar (cukup untuk 15 orang, digunakan sebagai tempat ngaji setiap Senin malam); 3 kamar mandi; gudang; garasi; ruang keluarga (tempat bapak biasanya ditonton oleh televisi, bukan bapak menonton televisi); teras super besar (yang setiap hari Senin digunakan sebagai tempat rapat anggota koperasi yang diketuai ibuku, bisa menampung sd 100 orang lebih); pelataran depan rumah yang berukuran sama dengan lapangan badminton. Beberapa hari sekali, ibu meminta tolong yu Pasi dan mbak Narti untuk bersih-bersih rumah total, mulai dari menyapu dan mengepel lantai, melap kaca, mencuci korden, menjemur kasur dan bantal, membersihkan peralatan dapur, dll, dan meminta tolong pak Yan untuk membersihkan kebun.

Waaah, kok jadi kepanjangan ya cerita tentang rumah besar (maaf, mungkin karena aku sangat sangat sangat rindu dengan suasana rumah besar jaman dulu). Kembali ke bubur sapar yaaa …. Bubur sapar itu terbuat dari tepung (entah tepung beras atau tepung ketan ya? Maaf, lupa), yang dibentuk bulat-bulat (sedikit lebih besar dari kelereng), terus dimasukkan ke dalam rebusan air gula merah. Setelah matang, akan berbentuk bubur berwarna coklat tua yang manis dengan bulatan-bulatan kenyal berwarna coklat muda yang gurih. Disajikan dengan santan kental. Slurrrp …, enak tenan.

Nah, di bulan Sapar, hampir setiap hari kami mendapat hantaran bubur sapar secara bergiliran, dari saudara dan tetangga satu kampung. Dari sekian banyak hantaran, tidak ada bubur sapar yang rasanya persis sama, pasti ada beda-beda tipis di rasa kenyal, gurih dan manisnya. Seisi rumah menyukai (ada yang agak suka, suka aja, suka banget) bubur sapar. Bapak dan aku termasuk yang “suka banget”. Kami biasanya menyabet duluan bubur sapar yang baru dihantar, karena masih fresh dan hangat.

Pada suatu hari Minggu, kami berencana membuat bubur Sapar, untuk hantaran dan untuk konsumsi sendiri. Jadi membuatnya dalam jumlah buuuanyak. Ibu, sebagai manager rumah, mempercayakan pembuatan bubur Sapar kepada mbah Yut, sebagai ketua, dan yu Pasi sebagai wakil ketua. Yang lainnya, sebagai pelaksana, dan bapak sebagai pemerhati. Ibu sendiri, sejak pagi sudah berangkat ngantor (hehehe … jualan di pasar), pokoknya tahu beres sepulang dari pasar. Beres berarti semua saudara dan tetangga yang ada dalam list sudah menerima hantaran bubur Sapar dan pas Ibu pulang, Ibu bisa menikmati bubur Sapar yang lezat.

Sejak pagi, mbah Yut yang terkenal super ceriwis, berulang kali meneriakkan instruksi, ”Siiii … (memanggil nama yu Pasi), nek mari kuwi ndang diselepno berase (setelah menyelesaikan itu, segeralah pergi menyelep/menumbuk beras), mengko nganggo panci sing gedhe iki ae (nanti pakai panci besar ini saja), tampahe nggawe telu (pakai tiga tampah), Sus karo Khol sing ngeterke (Sus dan Khol yang menghantarkan), Sholeh ndang dikandhani, kongkon ngeterke Sus karo Khol nang sing adhoh-adhoh (cepat beritahu Sholeh untuk mengantar Sus dan Khol menghantar ke tempat-tempat yang jauh), dll ….”

Yu Pasi yang saat itu sedang sibuk mengerjakan sesuatu dan berada didekatku, berbisik,” Wis ero … (sudah tahu).” Aku menyahut,” Aku yo wis ero (aku juga sudah tahu).” Dan kami berdua cekikikan.

Karena tidak mendengar respon dari yu Pasi, mbah Yut kembali berteriak,” Siiii …, kowe ki krungu po ora tho (Pasi, kamu ini dengar atau tidak?).”

“Enggeh mbah … krungu (iya mbah … dengar),” Yu Pasi cepat-cepat lari ke mbah Yut, mengambil bungkusan beras yang sudah disiapkan mbah Yut dan berangkat ke tempat selepan (tempat menumbuk beras).

Sepulang dari tempat selepan, yu Pasi membuat adonan tepung, plus air, air kapur, garam. Saat adonan tepung siap untuk dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil, pasukan pelaksana segera menyerbu. Aku, Sus, Khol, Hani, Roy plus teman-teman Hani dan Roy (Tita, Deni, Saiful) yang hampir tiap hari bermain di rumah, ditambah dengan gerombolan adikku Nur dan dua anaknya (Nisa dan Ina) yang tiap Minggu selalu stand-by di rumah besar. Mbah Yut seperti biasa mengeluarkan titah ini, itu, memarahi si A, si B,” Tit … lek ngunder-ngunder ojo gedhe-gedhe tho (Tita, bulatannya jangan besar-besar), Deni karo Saiful ki wes ngrusuhi ae (Deni dan Saiful mengganggu saja), dll.” Anak-anak benar-benar having fun dengan kegiatan “ngunder-ngunder” ini. Sementara bapak, sang pemerhati, hanya senyum-senyum sambil sesekali garuk-garuk kepala.

Walhasil, jadilah bubur Sapar “kocak”, karena bulatannya yang benar-benar tidak seragam. Variance-nya sangat besar. Mulai dari yang kecil mungil buatan Ina, sampai dengan yang segedhe bola bekel buatan Hani. Begitu bubur masak, semua pasukan pelaksana kecil makan bersama di teras besar. “Uuuenak …,” kata mereka. Bener lho, rasanya sangat enak. Tapi mbah Yut sangat tidak puas dengan hasil ini. Sampai sore beliau terus menggerutu gara-gara bubur Sapar yang tidak seragam.

Inilah sepenggal kerinduanku tentang bubur Sapar, tentang kebersamaan di rumah besar. Kalau aku kembali pulang, tak kan mungkin lagi kurasakan kebersamaan seperti waktu itu. Karena sekarang, mbah Yut sudah meninggal, Sus sudah menikah dan tinggal bersama suaminya, Khol sudah pulang ke rumahnya (mungkin akan segera menikah). Sama halnya dengan tak mungkin lagi kurasakan nikmatnya nyemil paket Cheeseburger dari pintu tol Mayjen Sungkono sd pintu tol Gempol, karena sekarang ruas tol Porong – Gempol sudah ditutup, tertutup lumpur Lapindo. Semuanya, sekarang hanya begitu indah dalam bayangan ….


  • nanik: Amin bu Lilik. Saya ikut berdoa buat ibu.
  • nanik: Saat suami ngurus cuti tahun 2007 lalu, sepertinya enggak terlalu susah (meski ribet juga sih ...). Detailnya sy tidak terlalu paham, yg jelas ada sya
  • fety: mbak nanik senang baca postingan ini, secara lagi mencari semangat sendiri :) mbak, ngurus cuti di luar tanggungan negara itu susah gak yah? boleh sha