Posted by: nanik on: September 19, 2011
Sebesar apa pun aku menginginkannya
Sekuat apa pun usahaku untuk menggapainya
Jika itu bukanlah yang terbaik untukku
Pastilah takkan terwujud (Pengalaman gagal berangkat studi dengan beasiswa Monbukagakusho tahun 2003)
Walau aku tak menginginkannya
Sebesar apa pun aku menghindarinya
Jika itu adalah yang terbaik untukku
Pastilah akan terwujud (Pengalaman September 2011)
Ya Allah,
Aku percaya ….
Semua adalah kehendak-Mu
Dan semua kehendak-Mu pastilah akan menjadi yang terbaik untukku
Dan semoga, yang terbaik untukku, akan menjadi yang terbaik untuk lingkunganku
Ya Allah,
Hamba mohon kekuatan, kesabaran, kemudahan ….
Untuk mengemban amanah ini ….
Tiada ada daya kekuatan pada diriku ya Allah ….
Tanpa pertolongan-Mu
Bismillah …..
Posted by: nanik on: Maret 8, 2010
Hari Senin, 22 Pebruari 2010, Lab kami mengadakan perpisahan untuk Hasitha, yang akan pindah ke Australia. Uniknya, perpisahan ini adalah dari Hasitha untuk Hasitha. Sebab Hasitha sendiri-lah yang menyiapkan tempat makan malam – di restoran India “Royal King” dekat Sun Square, menghubungi semua anggota lab, dan membayar makan malam istimewa tersebut. Harada Sensei bergurau dengan mengatakan kalau Hasitha akan bangkrut setelah membayar makan malam kami, tapi Hasitha tetap kekeh untuk membayar sendiri budget makan malam yang tidak murah itu: 2800 x 5 orang, sekitar 14 ribu yen. Menu yang dipilih adalah “you can eat all we serve”, kita boleh makan sepuasnya masakan yang mereka sediakan. Pertama, disajikan salad; kedua, ayam goreng, ayam panggang (nama India-nya lupa); ketiga, aneka tempura – gorengan udang, bawang Bombay, terong, kentang, dan teman2nya, dan sup udang; keempat, aneka ‘nan’ dan kare India (kalau tdk salah 4 macam nan dan 5 macam kare); kelima, es krim mangga. Setelah hidangan terakhir keluar, tak satupun dari kami yang sanggup makan lagi. Meski masih boleh memesan makanan, sudah tak ada ruang kosong di perut kami.
Hasitha, mahasiswa Srilanka, pintar, baik. Selama berteman dengannya, tak pernah menolak saat dimintai tolong. Mudahxan dia mendapat kesuksesan di tempat yang baru.
Oh ya, pas makan malam, ketemuan dengan pak Yudhi Adit. Ternyata pak Adit suka jajan juga
Thanks pak Adit for taking our photos.
Posted by: nanik on: Maret 8, 2010
Hari Kamis, tanggal 18 Pebruari 2010, mulai jam 10.00 di gedung Engineering ruang C1-112, aku mempresentasikan disertasiku di sidang terbuka yang dihadiri oleh pembimbing disertasi: Professor Harada, para penguji: Professor Morita, Professor Asano, Associate Professor Morimoto, anggota Media Graphics Lab: Hashita dan Wu, anggota Spatial Informatics Lab : Li dan Kavitha, anggota Data Management Lab : Siddique, sahabat2 Indonesia: teh Ela, pak Budi, Dian, mas Roni, Yosi, pak Ardi, pak Unggul, pak Roni Seto. Karena waktu presentasi hanya 45 menit, Prof Harada memintaku untuk mempresentasikan topik utama risetku saja (teknik2 pengeditan pada permukaan multiresolusi berbasis wavelet) dan memotong topik kedua (temu kembali citra menggunakan kansei). Sesi tanya jawab dialokasikan selama 45 menit.
Jarak antara sidang pertama dan kedua cukup lama – hampir dua bulan, membuatku lupa ttg beberapa detil dalam disertasiku. Misalnya, kenapa aku milih a, gak milih b or c or d. Perlu waktu untuk mengingat kembali detil2 tsb, memutuskan apa yang mesti di-omongin di setiap slide (susah juga, semua penting, tapi aku hanya punya 45 menit …) dan menyiapkan jawaban untuk pertanyaan2x yang mungkin akan diajukan.
Jam 9.30 kami berdua (aku dan prof-ku) berangkat menuju ruang presentasi. Aku tidak menawarkan diri untuk membawakan tas projector yang ditenteng Prof Harada karena aku sendiri juga menenteng laptop dan karena aku tahu bahwa tawaranku pasti akan ditolak beliau
Setelah Prof Harada memasang projector dengan dibantu oleh aku, teh Ela dan Dian, kami masih mempunyai waktu beberapa menit sebelum jam 10 – waktu sidang dimulai. Biasanya, menunggu adalah waktu yang membosankan. Tapi kali ini, menunggu adalah waktu yang mendebarkan dan bikin salah tingkah. Dari menit ke menit, satu per satu penguji pun berdatangan. Dan aku semakin linglung, nggak nyaman, karena hanya duduk dan menjadi tontonan. Untunglah, saat-saat linglung itu hanya sebentar saja.
Pada saat presentasi, kucoba sampaikan apa yang telah kukerjakan dalam risetku dalam bahasa dan alur yang semudah mungkin bisa dimengerti (karena yang hadir dalam sidangku tidak semuanya sebidang denganku), kuminimalisir penulisan rumus dan kuhindari bicara cepat (meski nggak stabil, kalau pas semangat – mungkin ngomongnya jadi kecepetan, kalau pas keluar o’onnya – mungkin jadi kelambatan). Di sesi tanya jawab, ada 2 pertanyaan dari Prof Morita, 1 dari Prof Asano, 2 ½ dari Prof Morimoto dan 1 dari Kavitha.
Setelah sesi tanya jawab selesai, aku dan semua yang hadir diminta keluar ruangan, karena tim penguji akan mendiskusikan hasil sidang. Begitu keluar ruang sidang, alhamdulillah, aku merasa plong. Lega …. Bukan hanya lega karena sudah menyelesaikan sidang, tetapi lega karena sudah melewati hal sulit terakhir dari keseluruhan proses studiku selama 3 tahun. Begitu leganya sampai pengen nangis. Pas Dian memberi bunga (mawar putihkah?), saat itu aku merasa terharu dan bahagia. Alhamdulillah, aku tidak sendiri menghadapi masa senang dan sulitku. Dian, thanks for the beautiful flowers. Dian, teh Ela, thanks for the warm hug
Pak Budi, teh Ela, thanks for taking photo and video. Teh Ela, pak Budi, Dian, mas Roni, Yosi, pak Ardi, pak Unggul, pak Roni Seto, thanks for attending my presentation. Sahabat, terima kasih untuk semua perhatian, semua bantuan dan persahabatan.
Kilas balik studi: 2 Pebruari 2007, ujian masuk program Doktor; 1 April 2007, resmi menjadi mahasiswa Doktor; 22 Desember 2009, sidang tertutup; 18 Pebruari 2010, sidang terbuka.
Masa paling sulit: Desember 2008 – September 2009, paper ditolak, hamil dan melahirkan Nana, belajar (lebih keras dari biasanya) dan menulis paper untuk memenuhi syarat lulus.
Masa paling santai: September 2006 – Pebruari 2007, research student and pretend as a single woman.
Wisuda: 23 Maret 2010, Insya Allah.
Posted by: nanik on: Desember 17, 2009
Zaman dulu, aku nggak protes (alias mengajukan permintaan untuk beli baru), meski bertahun-tahun selama di Jurusan aku memakai komputer jaman jadul yang butuh waktu lebih dari 3 menit untuk booting. Untungnya, aku punya kebiasaan ngopi setiap kali tiba di Jurusan. Sehingga saat-saat menunggu proses booting yang membosankan, bisa kupakai untuk meramu kopi yang rasanya pas
Saat nunggu running program yang komputasinya tinggi – jelas komputerku jalannya lemot banget – biasanya kusibukkan diriku dengan pekerjaan lain, seperti ngoreksi, baca diktat kuliah, dll, dll, yang jumlahnya bejibun. Kadang2x kusibukkan diriku dengan bikin kopi lagi, waw, waw, maniak kopi. Alhasil, meski lemot-nya komputer cukup mengganggu, tapi masih tetep ok-lah buat aku. Selagi masih bisa memanfaatkan komputer ini, nggak pernah terpikir olehku buat minta ke Jurusan untuk nyediain komputer baru. Sampai akhirnya pak Yudhi (kajur informatika saat itu), ngetawain aku dan komputer lemot-ku “mosok komputere koyok ngene, hehehe …” dan mengusahakan komputer baru buatku. Sejak saat itu, aku nggak perlu ngopi lagi untuk nunggu proses booting. -> padanan katanya adalah “neriman” alias “gak protesan”.
Zaman duluuu banget, ketika handphone dengan layar monochrome sudah termasuk wah, dan ketika orang2x di sekitarku sudah banyak yang menenteng hp ke mana2x, di kepalaku masih sering terlintas “telepon kan bisa di rumah or di kantor. ngapain sih nenteng telepon ke mana2x. hehehe ….” saat melihat orang2x ber-hp ria. Pernah juga tanya ke pak Was “handphone itu beda dg telepon kah? Kok pakai kartu segala?” Meski sudah dijelasin oleh pak Was, masih saja nggak ngeh dan nggak tertarik untuk pakai hp. Sampai akhirnya, aku mendapat masalah di jalanan – ban mobilku kempes. Seandainya aku bisa meminta tolong orang rumah …. Nah, saat itulah aku baru merasa ngeh dengan manfaat handphone – yang bisa dipakai di manapun saat diperlukan. Aku beli hp setelah kejadian itu. -> padanan katanya “agak o’on”.
Sebelum berangkat sekolah (sekolah yang terakhir ini maksudnya), nge-blog juga nggak pernah sekalipun terlintas di pikiranku. Saat itu, pikiranku tentang orang2x yang bikin blog adalah “kayak kurang kerjaan aja, hehehe …” Memang sih, waktu itu aku sibuk banget. Ya kerja, ya nyopir, ya ngurus anak, ya silaturahmi ke sodara2x, ya menghadiri undangan mantenan, sunatan, syukuran, dll …., sehingga merasa aneh dengan orang yang masih punya waktu untuk nge-blog. Dan yang terpenting, waktu itu aku masih belum menemukan satu alasan buat diriku untuk membuat blog. Nah, pas sekolah, di bulan2x awal aku agak kelimpungan gara2x bahasa Inggris. Meski sejak SMP sudah diajari bahasa Inggris dan setelah bekerja sering membaca diktat berbahasa Inggris, tapi karena nggak pernah mempraktekkan boso Londo dalam percakapan dan tulisan, aku agak kerepotan mengikuti kegiatan lab yang komunikasinya menggunakan bahasa Inggris – baik saat seminar maupun ngobrol dengan Prof dan teman2x lab, apalagi saat nulis paper. Belajar menulis dan memperbaiki bahasa Inggris menjadi alasanku untuk nge-blog. Nggak asyik dong kalau nulis capek2x tapi dibaca hanya oleh diri sendiri :) Akhirnya, jadilah blog-ku ini. Tulisan yang kumuat adalah tulisan2x bertema ringan, tentang kejadian di sekitarku, pengalamanku, yang bikinnya lebih gampang dibanding tema fiktif (gak jago ngayal sih), dan resiko “malu2xin” setelah dibaca orang nggak terlalu tinggi. Antara lain cerita tentang ttg anak2x, jalan2x dan sebangsanya. Tulisan bertema “agak berat” – paper hasil riset misalnya – biarlah hanya reviewer yang ngetawain. -> padanan katanya “gak pe-de”.
Ketika ibu2x di pengajian “PI Saijo” sudah ramai ngobrolin facebook, aku masih berkutat dengan pemikiran “walaaah, sempet2xnya facebook-an”
Dalam pikiranku, kalau punya facebook pasti jadi tambah repot. Teman2x akan banyak yang berkunjung ke facebook, say hello or something. Ndak sopan kan kalau teman2x datang ke rumah terus menyapa, tapi di-ignore (hehehe …, sd saat ini aku masih nganggap blog and facebook seperti rumah). Merespond sapaan teman2x pastinya butuh waktu, sedangkan sekarang saja email di inboxku jumlahnya ratusan yang belum sempat kubaca :( Sampai akhirnya adik dan keponakanku yang ternyata juga sudah punya FB memintaku untuk ndaftar FB supaya mereka bisa lihat foto kami, terutama fotonya si bungsu Nana. Walaaah. So, alasan awalku untuk ber-FB adalah supaya bisa memampang foto. Dalam perjalanan ber-FB yang belum lewat sebulan, aku bisa ketemu dengan teman2x (mulai dari teman SMP, SMA, kuliah sd teman sesama perantau) dan saudara2x di dunia maya, mengetahui aktifitasnya, foto2xnya dan menikmati komentar2xnya. Asyik juga ternyata …. -> padanan katanya “sayang adik dan keponakan”.
Posted by: nanik on: November 10, 2009
hujan, kau ingatkan aku
tentang satu rindu di masa yang lalu
saat mimpi masih indah bersamamu
terbayang satu wajah penuh cinta penuh kasih
terbayang satu wajah penuh dengan kehangatan
kau Ibu, oh ibu
Allah ijinkanlah aku bahagiakan dia
meski dia jauh
biarkanlah aku berarti untuk dirinya
oh Ibu, oh Ibu
By Opick